another blogger

Minggu, 20 Agustus 2017

Day 16 - My View on Education

Pepatah di keluarga besarku adalah "Selagi masih bisa mendapatkan ilmu, kenapa berhenti," atau "Belajar ngga kenal waktu: usia dan kehidupanmu." yang mana akhirnya membuat perspektif hidupku menjadi education-oriented. Walaupun ngga harus dengan menyandang gelar profesor, tapi kami berpegang teguh bahwa yang kami lakukan sekarang ini pun adalah proses belajar. Yang aku kerjakan sekarang (nulis......) adalah proses belajar.

Waktu SD dulu aku sempat tinggal sama eyangkung di Surabaya, 2 tahun, tanpa ibu-bapak. Yang mana bikin aku mengetahui kehidupan eyangkung yang ngga pernah lepas dari ruang kerjanya. Pagi-pagi banget jam 3 pagi, eyang udah nongkrong di ruang kerja, entah itu sekedar baca-baca, menulis ilmiah, ngecek disertasi mahasiswa, ngurus jurnal, dan kegiatan itu berlangsung setiap hari. Jam 6 pagi eyangkung udah siap buat visite di Rumah Sakit, praktek dari satu RS ke RS lain. Sampai rumah jam 5 sore dan langsung berangkat praktek di klinik pribadi. Sampai jam 1 pagi. Istirahat sebentar, trus bangun lagi jam 3 buat memulai rutinitas hari berikutnya. Aku ingat waktu itu usia eyang 68 tahun dan masih semangat belajar, masih semangat mengajar, bahkan menyempatkan waktu ngebantuin aku dan Raka ngerjakan PR sekolah.

Mungkin itu ya, yang bikin aku menghargai pendidikan, dan menganggap pendidikan itu penting. Buat diri sendiri, maupun orang lain. Seperti yang aku bilang, ngga harus dengan menyandang gelar Guru Besar atau profesor, kalau seseorang punya pikiran yang luas, menerima pendapat dan kritik orang, menerima perubahan (ke arah yang lebih baik), maka dia termasuk orang yang berpendidikan, menurutku. Coba kalau berdiskusi dengan orang-orang seperti itu, rasanya seger gitu, kamu bakal nerima cerita, pengalaman, dan pandangan baru tentang hal-hal yang sebelumnya hanya kamu ketahui sedikit.

Di Indonesia sekarang mulai menggalakkan wajib belajar 12 tahun, dimana menurutku itu sangat bagus sekali. Sekolah formal, dari SD sampai SMA menurutku berperan besar dalam membentuk karakter kita. Aku inget banget waktu SD, dimana setiap olahraga, guru nya ngajak nyanyi lagu-lagu wajib, berbaris di depan kelas sebelum masuk, berdoa bersama, mengucap salam. Karena tiap hari dilakukan, kami jadi terbiasa. Kalau aku ngga sekolah, mungkin ngga akan terbentuk aku yang seperti sekarang. Intinya, pendidikan bagiku penting.

Di keluargaku sendiri, diskusi soal sistem pendidikan atau pendidikan sering jadi topik diskusi yang seru bangeet. Bapak dan ibu sama-sama selalu menyemangati aku buat sekolah lagi, selagi mereka bisa membantu. Pelan-pelan aku diarahkan untuk sekolah lagi sesuai minat yang aku mau. Dan kalau bertentangan dengan saran mereka, akupun ngga segan berdiskusi aku pengennya seperti apa kira-kira. Bahkan menyarankan untuk sekolah di luar, di lingkungan baru yang pastinya aku bakal dapat ilmu dan suasana baru. Aku harus lebih banyak diskusi dengan orang-orang baru, bertukar pikiran dengan orang-orang di tempat lain supaya pikiranku lebih terbuka. Dengan beberapa kali ikut lomba di luar, ketemu orang-orang baru, wawasanku jadi lebih terbuka.

Wkwk gatau lah ya aku ngowos apa aja tadi di atas. Ngga paham juga kalo aku baca-baca lagi. Post kali ini butuh waktu beberapa hari buat aku berhasil memulai nulis, setelah sebelumnya galau bakal nulis gimana. Yak point nya adalah... pendidikan menurutku penting banget. Dan kita sebaiknya lebih sering ngobrol dengan banyak orang, karena itu bikin kita sadar kalau kita mengejar pendidikan, bukan untuk jadi yang terbaik, tapi untuk menjadi 'baik' bagi kita dan orang lain, untuk jadi bijak dalam melihat masalah dari berbagai sudut pandang, untuk ngga jadi orang dengan sumbu pendek. Untuk mencegah hal-hal alay kaya pertengkaran netizen di kolom komentar postingan orang 😅😅

Penikmat Senja



"Tinggal nunggu yang ngefotoin aku lagi ngefoto langit,
terus captionnya 'my favourite view'.."

-Soraya Isfandiary-


Yha Ay, yha........... sabar yha wkwkwk

Sabtu, 19 Agustus 2017

Misalnya Senja

Misalnya senja tak datang malam itu,
Masihkah ku bergumam menyeru?
Berdiri rapuh,
Berpegang pada kayu,
Runtuh...

Misalnya senja tak datang malam itu,
Mungkinkah ku terdiam bisu?
Meratapi daun yang berlalu,
Meninggalkan hulu,
Menuju ke tempat baru...
Sendu..

Misalnya senja tak datang malam itu,
Akankah ku tersenyum pilu,
Menanti lagi menyapa relung..
Adakah ku membeku,
Menunggu warnamu,
Di hari yang kutunggu..
Tiap waktu..

Misalnya senja tak datang malam itu,
Kubertaruh jiwaku utuh,
Tapi hatiku membiru,
Seperti berhantu,
Membayangi langkahku,
Yang tak kunjung berhenti berpacu..

Misalnya senja,
Tak menyapaku kala itu...

Kamis, 17 Agustus 2017

#1 Support System


Terima kasih sudah menemani, membantu, dan mendoakan sehingga aku bisa menyelesaikan tanggung jawab di FKG Unair.
Sekarang, aku mau minta tolong ditemani lagi, dibantu lagi, dan didoakan lagi supaya bisa jadi orang yang bermanfaat, buat keluarga dan juga orang lain :")
The first step to recovery is admitting you're a dumbass, like I always said.
And the first thing you do to stop getting a crap is to stop accepting crap.

Stop letting your self drowned in your sea of expectations, stop wanting people to treat you like you treated them, stop trying to make everybody pleased.

Sometimes, you just have to think "What about me?"
And prioritize yourself.
Pleased yourself.
Sometimes.