Orang : kamu dulu SD dimana ra?
Aku : SD DK UT Jakarta, Ketabang III Surabaya, YPS Singkole Soroako
Orang : ..... kamu SD berapa tahun sih?
Aku : 6 doang dong. Di Jakarta 2 taun, di Surabaya 2 taun, di Sulawesi 2 taun
Orang : kalo SMP nya dimana?
Aku : SMP YPS Singkole Soroako, sama SMP 6 Surabaya
Orang : ....................... berapa taun berapa taun?
Aku ; 2 taun di Soroako, setaun di Surabaya
Orang : Jangan-jangan ntar SMA ini kamu pindah lagi ya?
Aku : Ahaha InsyaAllah sih enggak
Sabtu, 19 Juni 2010
Sabtu, 12 Juni 2010
...
Dira buru-buru mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi. hari ini, ia akan pergi bersama neneknya ke suatu tempat. Sampai di kamar mandi, ternyata ia lupa menyiapkan segala keperluannya untuk dibawa pergi nanti, padahal ibunya sudah mengingatkan.
"Diraaaaaaaaaaa ayo cepetan!" teriak nenek Dira dari arah ruang tamu. Sepertinya memang sudah terburu-buru.
"Iyaa sebentar," jawab Dira. Ia pun melanjutkan kegiatan menggosok giginya. Namun sepertinya nenek Dira tidak mendengar jawaban cucunya, maka beliau memutuskan untuk memanggilnya sekali lagi dengan nada lebih tinggi.
Hal itu membuat Dira bete berat. Moodnya langsung turun, dengan nada tinggi juga ia membalas, "IYA IYA!!!!" lalu mempercepat gosokan giginya.
Sudah buru-buru, dibikin bete, yaudah tinggal aja dong nggak usah nungguin Dira, batin Dira dalam hati. Setelah selesai mandi, ia langsung menuju kamar untuk sisiran.
"Diraaaaa" suara ibu Dira terdengar dari arah ruang tamu. Aduh apalagi sih?! Sabar dikit dong! Ini aku juga udah cepat-cepat!! Batin Dira. Ia pikir ibunya juga menyuruhnya cepat-cepat, dan itu membuatnya makin bete, "Apaa?!!!!" jawabnya dengan nada yang tinggi dan sedikit marah.
Ibu Dira masuk ke kamar Dira, melihat putrinya yang berwajah bete, beliau bertanya, "kamu kenapa sih kok marah-marah?" nadanya tampak kecewa dengan jawaban Dira yang sedikit menyentak tadi.
Dira menoleh ke arah ibunya, "enggak kok nggak marah," tapi tentu saja berlainan dengan raut wajahnya yang menunjukan bahwa dia BETE BERAT
Ibu Dira menghela nafas, lalu berbicara lembut "hapenya titipkan nenek saja nanti, banyak orang lho," sambil berlalu keluar.
Aduh apa sih yang barusan aku katain?! Aku nyakitin hati ibu! Tapi gimana lagi, aku lagi bete. Ibu juga nggak mau bantuin aku sih. Dira mengeluh dalam hati. Tapi tiba-tiba ia melihat sebuah tas di belakangnya. Setelah ia buka, ternyata perlengkapan yang di butuhkan Dira sudah disiapkan di dalam tas itu. Padahal ia belum menyiapkannya sama sekali, lalu siapa yang......
pasti ibu. gumam Dira. Ia jadi merasa menyesal telah berkata kasar pada ibunya tadi. Kemudian dengan rasa menyesal, ditambah lagi rasa gengsinya untuk meminta maaf. Ia hanya mencium tangan ibunya dan berpamitan pergi.
"Oh iya," Dira kemudian menghentikan langkahnya mendengar ucapan ibu Dira, "itu sudah ibu siapkan makanan tadi. Makan di jalan, pasti tadi belum makan kan?"
Dira kemudian menitikan air matanya
"Diraaaaaaaaaaa ayo cepetan!" teriak nenek Dira dari arah ruang tamu. Sepertinya memang sudah terburu-buru.
"Iyaa sebentar," jawab Dira. Ia pun melanjutkan kegiatan menggosok giginya. Namun sepertinya nenek Dira tidak mendengar jawaban cucunya, maka beliau memutuskan untuk memanggilnya sekali lagi dengan nada lebih tinggi.
Hal itu membuat Dira bete berat. Moodnya langsung turun, dengan nada tinggi juga ia membalas, "IYA IYA!!!!" lalu mempercepat gosokan giginya.
Sudah buru-buru, dibikin bete, yaudah tinggal aja dong nggak usah nungguin Dira, batin Dira dalam hati. Setelah selesai mandi, ia langsung menuju kamar untuk sisiran.
"Diraaaaa" suara ibu Dira terdengar dari arah ruang tamu. Aduh apalagi sih?! Sabar dikit dong! Ini aku juga udah cepat-cepat!! Batin Dira. Ia pikir ibunya juga menyuruhnya cepat-cepat, dan itu membuatnya makin bete, "Apaa?!!!!" jawabnya dengan nada yang tinggi dan sedikit marah.
Ibu Dira masuk ke kamar Dira, melihat putrinya yang berwajah bete, beliau bertanya, "kamu kenapa sih kok marah-marah?" nadanya tampak kecewa dengan jawaban Dira yang sedikit menyentak tadi.
Dira menoleh ke arah ibunya, "enggak kok nggak marah," tapi tentu saja berlainan dengan raut wajahnya yang menunjukan bahwa dia BETE BERAT
Ibu Dira menghela nafas, lalu berbicara lembut "hapenya titipkan nenek saja nanti, banyak orang lho," sambil berlalu keluar.
Aduh apa sih yang barusan aku katain?! Aku nyakitin hati ibu! Tapi gimana lagi, aku lagi bete. Ibu juga nggak mau bantuin aku sih. Dira mengeluh dalam hati. Tapi tiba-tiba ia melihat sebuah tas di belakangnya. Setelah ia buka, ternyata perlengkapan yang di butuhkan Dira sudah disiapkan di dalam tas itu. Padahal ia belum menyiapkannya sama sekali, lalu siapa yang......
pasti ibu. gumam Dira. Ia jadi merasa menyesal telah berkata kasar pada ibunya tadi. Kemudian dengan rasa menyesal, ditambah lagi rasa gengsinya untuk meminta maaf. Ia hanya mencium tangan ibunya dan berpamitan pergi.
"Oh iya," Dira kemudian menghentikan langkahnya mendengar ucapan ibu Dira, "itu sudah ibu siapkan makanan tadi. Makan di jalan, pasti tadi belum makan kan?"
Dira kemudian menitikan air matanya
make up
Weekend ini kebetulan aku disibukan (bukan disibukan tepatnya, tapi menyibukan diri) dengan acara pernikahan tanteku. Jadi sejak Jum'at siang, aku udah stand by di sana, bersiap untuk dandan.
Yang memenuhi kepalaku tiga hari sebelum hari jumat adalah............. make up
Well, kalian perlu tahu aku tidak suka di make up. Meski kata wiwi kalau cewek pake make up bakalan tambah cantik, aku tidak menyalahkan, tapi tetap saja aku tidak suka. Entah, mungkin karena rasa 'kecewekanku' kurang sekali, atau bahkan tidak ada :o
Karena ini acara resmi, aku tidak mungkin bilang "ehm enggak deh aku polosan aja" yang aku yakin ujungnya pasti akan berakhir dengan tatapan membunuh dari semua orang. Yang benar saja, masa acara seperti ini akan tampil polosan? pikir mereka. Ke-enggananku sedikit luntur ketika ibu bilang, "udahlah, sekali setaun aja kamu tampil kaya gini kan" thanks mom
dan berkat itu, aku bisa duduk manis di depan meja rias, dengan pasrah, dan membiarkan si perias yang untungnya wanita itu memoles wajahku. Setiap kali dia memoleskan sesuatu, aku pasti membuka mata dan melihat ke arah cermin di depanku, jadi seperti apakah wajahku sekarang? Oh ini masih belum apa-apa rupanya, karena aku belum melihat adanya perubahan yang signifikan (maaf sebelumnya, tapi aku sendiri belum tahu pasti arti kata signifikan. Mungkin untuk mendefinisikan sesuatu yang lebih mendetail atau terlihat)
Tetapi setelah itu, aku mulai merasa bahwa daritadi si perias hanya menepuk-nepukan pad bedaknya ke wajahku. Hm, sepertinya memang bedaknya akan jadi tebal sekali. Dan dengan segenap keberanian aku membuka mata.
God.
Aku shock.
Siapa cewek yang aku lihat di cermin? Cewek putih pucat dengan mata yang sipit. Bahkan kelopaknya pun tidak terlihat.
Jelas itu bukan aku, karena kulitku tidak putih pucat dan mataku tidak sipit. Tapi siapa lagi yang sekarang sedang duduk di depan cermin ini. Hanya ada satu orang, yaitu Rara, ehm maksudku aku sendiri.
Aku sedikit was-was, apa nanti aku akan tampil dengan wajah yang mulai terlihat datar seperti tembok ini? Bahkan hampir menyerupai Michael Jackson. Ya Allah........... pasrah, yang bisa kulakukan hanya pasrah. Sampai-sampai aku tertidur karena pasrahnya --'
Tapi, ketika aku bangun,
wajahku sudah tidak seputih tadi. Ada olesan blush on merah yang membuat wajahku tampak lebih berwarna. Serta eye shadow, eye liner, sampai mascara. Semuanya menyihir rupa Jacko ku menjadi Nia Ramadhani HAHAHAHA
yang aku rasakan sebelum aku tertidur:
1. Shock, pertama karena melihat rupaku yang lebih mirip badut pesta dibandingkan ornag yang mau pergi ke pesta
2. Aku pesimis hasilnya akan bagus, maka aku sudah siap-siap melepas sepatuku untuk mengeplak periasnya kalau-kalau aku tampil dengan riasan begini (Yang ini aku hanya bercanda hahahaha)
3. Apa rupa asliku memang seperti ini? :O
4. Berencana ingin cuci muka dan dandan sendiri kalau hasilnya menor menor
5. (Setelah selesai di dandani) wajahku rasanya berat dan bulu mataku basah. Sesekali hidungku gatal saat dirias, tapi aku jadi enggan menggaruknya. begitu pula ujung mataku yang gatal, karena takut mengacaukan maskara, aku mengurungkan niat untuk menggaruknya
Yang memenuhi kepalaku tiga hari sebelum hari jumat adalah............. make up
Well, kalian perlu tahu aku tidak suka di make up. Meski kata wiwi kalau cewek pake make up bakalan tambah cantik, aku tidak menyalahkan, tapi tetap saja aku tidak suka. Entah, mungkin karena rasa 'kecewekanku' kurang sekali, atau bahkan tidak ada :o
Karena ini acara resmi, aku tidak mungkin bilang "ehm enggak deh aku polosan aja" yang aku yakin ujungnya pasti akan berakhir dengan tatapan membunuh dari semua orang. Yang benar saja, masa acara seperti ini akan tampil polosan? pikir mereka. Ke-enggananku sedikit luntur ketika ibu bilang, "udahlah, sekali setaun aja kamu tampil kaya gini kan" thanks mom
dan berkat itu, aku bisa duduk manis di depan meja rias, dengan pasrah, dan membiarkan si perias yang untungnya wanita itu memoles wajahku. Setiap kali dia memoleskan sesuatu, aku pasti membuka mata dan melihat ke arah cermin di depanku, jadi seperti apakah wajahku sekarang? Oh ini masih belum apa-apa rupanya, karena aku belum melihat adanya perubahan yang signifikan (maaf sebelumnya, tapi aku sendiri belum tahu pasti arti kata signifikan. Mungkin untuk mendefinisikan sesuatu yang lebih mendetail atau terlihat)
Tetapi setelah itu, aku mulai merasa bahwa daritadi si perias hanya menepuk-nepukan pad bedaknya ke wajahku. Hm, sepertinya memang bedaknya akan jadi tebal sekali. Dan dengan segenap keberanian aku membuka mata.
God.
Aku shock.
Siapa cewek yang aku lihat di cermin? Cewek putih pucat dengan mata yang sipit. Bahkan kelopaknya pun tidak terlihat.
Jelas itu bukan aku, karena kulitku tidak putih pucat dan mataku tidak sipit. Tapi siapa lagi yang sekarang sedang duduk di depan cermin ini. Hanya ada satu orang, yaitu Rara, ehm maksudku aku sendiri.
Aku sedikit was-was, apa nanti aku akan tampil dengan wajah yang mulai terlihat datar seperti tembok ini? Bahkan hampir menyerupai Michael Jackson. Ya Allah........... pasrah, yang bisa kulakukan hanya pasrah. Sampai-sampai aku tertidur karena pasrahnya --'
Tapi, ketika aku bangun,
wajahku sudah tidak seputih tadi. Ada olesan blush on merah yang membuat wajahku tampak lebih berwarna. Serta eye shadow, eye liner, sampai mascara. Semuanya menyihir rupa Jacko ku menjadi Nia Ramadhani HAHAHAHA
yang aku rasakan sebelum aku tertidur:
1. Shock, pertama karena melihat rupaku yang lebih mirip badut pesta dibandingkan ornag yang mau pergi ke pesta
2. Aku pesimis hasilnya akan bagus, maka aku sudah siap-siap melepas sepatuku untuk mengeplak periasnya kalau-kalau aku tampil dengan riasan begini (Yang ini aku hanya bercanda hahahaha)
3. Apa rupa asliku memang seperti ini? :O
4. Berencana ingin cuci muka dan dandan sendiri kalau hasilnya menor menor
5. (Setelah selesai di dandani) wajahku rasanya berat dan bulu mataku basah. Sesekali hidungku gatal saat dirias, tapi aku jadi enggan menggaruknya. begitu pula ujung mataku yang gatal, karena takut mengacaukan maskara, aku mengurungkan niat untuk menggaruknya
Rabu, 09 Juni 2010
tulis-tulis
Sama kaya nama blog ini, sebenernya aku bingung mau pake nama apa. Di otakku yang ada cuma cari sebuah nama yang beda dan benar-benar beda dari yang lain, ada beberapa nama sih sebelum tulis-tulis tapi gara-gara Raka, aku mutusin untuk ngganti namanya. Dan Voila! jadilah tulis-tulis
Aku suka nulis udah dari SD cuma yaah, kaya gini-gini aja tulisannya. Em maksudku nggak ada tulisan yang berkesan, benar-benar sebuah karya dengan bahasa monoton yang membosankan -_______-
Awalnya aku suka nulis cerita, soalnya aku nggak pernah puas sama isi novel-novel yang aku baca. Mungkin udah bagus dan aku nggak bisa bikin sebagus itu. Tapi apa ya, rasanya selalu ada adegan atau ending yang menurutku seharusnya bisa lebih dari itu. Dan berawal dari rasa ingin menulis sebuah tulisan yang WAH itulah aku mulai nulis.
kaya yang aku tulis sebelumnya, mungkin aku cuma bisa komentar, soalnya sampe sekarang aku malah belum bisa nulis cerita dari awal sampe selesai yang bener-bener serius dan nyambung -_____-
tapi gapapa, masih ada banyak waktu dan selama itu aku bakal terus nulis sampe tulisanku bisa dijajarkan sama tulisannya J.K Rowling, Rosemary Kesauli, Ken Terate atau pun kakak kelas yang aku kagumin tulisannya ;)
Aku suka nulis udah dari SD cuma yaah, kaya gini-gini aja tulisannya. Em maksudku nggak ada tulisan yang berkesan, benar-benar sebuah karya dengan bahasa monoton yang membosankan -_______-
Awalnya aku suka nulis cerita, soalnya aku nggak pernah puas sama isi novel-novel yang aku baca. Mungkin udah bagus dan aku nggak bisa bikin sebagus itu. Tapi apa ya, rasanya selalu ada adegan atau ending yang menurutku seharusnya bisa lebih dari itu. Dan berawal dari rasa ingin menulis sebuah tulisan yang WAH itulah aku mulai nulis.
kaya yang aku tulis sebelumnya, mungkin aku cuma bisa komentar, soalnya sampe sekarang aku malah belum bisa nulis cerita dari awal sampe selesai yang bener-bener serius dan nyambung -_____-
tapi gapapa, masih ada banyak waktu dan selama itu aku bakal terus nulis sampe tulisanku bisa dijajarkan sama tulisannya J.K Rowling, Rosemary Kesauli, Ken Terate atau pun kakak kelas yang aku kagumin tulisannya ;)
dangdut
Gara-gara terbiasa ngasih solusi buat temen-temen, aku dari kecil udah punya 15 sertifikat juara internasional dangdutan sedunia <-- sumpah ini bohong
Apalagi aku dulu orangnya luebai pol2an kalo ada masalah atau apa, saking dulu itu sering banget ngeluh, sampe temenku itu hampir tiap hari menguatkan aku dengan kata-kata mutiara yang selalu bisa membangkitkan semangatku ;)
Nah, sekarang kayaknya mulai kumat lagi deh. Aku mulai ngerasa kalo ngomong kata-kata yang dangdut itu................... menyenangkan wakakakakkakaka
Aku sendiri gatau alesannya kenapa bisa kaya gitu tapi yang jelas aku menikmati saat-saat aku bisa ngomong kata-kata yang kata orang ndangdut pol-polan (n.b: dalam situasi dan kondisi tertentu -_-)
Apalagi aku dulu orangnya luebai pol2an kalo ada masalah atau apa, saking dulu itu sering banget ngeluh, sampe temenku itu hampir tiap hari menguatkan aku dengan kata-kata mutiara yang selalu bisa membangkitkan semangatku ;)
Nah, sekarang kayaknya mulai kumat lagi deh. Aku mulai ngerasa kalo ngomong kata-kata yang dangdut itu................... menyenangkan wakakakakkakaka
Aku sendiri gatau alesannya kenapa bisa kaya gitu tapi yang jelas aku menikmati saat-saat aku bisa ngomong kata-kata yang kata orang ndangdut pol-polan (n.b: dalam situasi dan kondisi tertentu -_-)
Langganan:
Postingan (Atom)