Kamis, 03 Februari 2011
Rabu, 02 Februari 2011
Hobi baru
1. Mantengin daftar nama pilihan studi snmptn jalur undangan
2. Meriksa satu-satu nama ptn yang buka jalur undangan
3. Mantengin daftar nama pilihan studi snmptn jalur undangan (lagi!)
4. Mantengin jumlah calon mahasiswa yang diterima
5. Milih mana-mana yang harus diambil
2. Meriksa satu-satu nama ptn yang buka jalur undangan
3. Mantengin daftar nama pilihan studi snmptn jalur undangan (lagi!)
4. Mantengin jumlah calon mahasiswa yang diterima
5. Milih mana-mana yang harus diambil
They're
Awalnya yang ada dipikiranku cuma satu: orang tua memaksakan kehendak masa depan untuk anaknya
Kenapa? Karena rasanya yang kujalani selama ini hanyalah skenario buatan orang tuaku. Aku bersekolah di salah satu sekolah paling top di kota ini. Karena apa? Karena perintah orang tuaku. Aku masuk ke salah satu kelas top di sekolah ini. Karena apa? Karena perintah orang tuaku.
Kemudian aku memutar otak, seakan puzzle puzzle beterbangan di kepalaku. Aku melupakan beberapa potong memori, tapi tidak lama semuanya kembali muncul di otakku.
Ketika ujian nasional SMP, aku menangis karena takut hasilnya. Ayahku berkata, "Tidak apa-apa, kamu kan sudah berusaha," begitu pula dengan ibu yang langsung mengusap kepalaku, "Tenang aja, hasilnya pasti bagus,"
Yang aku lupakan: mereka mempercayaiku
Ketika aku bingung untuk mendaftar di sekolah SBI, ayahku berkata, "Semua terserah kamu. Kalau mau mencoba bagus, kalau tidak juga tidak apa-apa. Toh semua sekolah sama baiknya," dan ibuku, "Saran ibu coba saja, kalau keterima kan Alhamdulillah. Tapi semua kembali ke kamu. Kamu mau atau tidak?"
Yang aku lupakan: sebenarnya mereka menyerahkan keputusan sepenuhnya padaku
Ketika aku batal mengirimkan karyaku yang tidak karuan ke salah satu lomba menulis, ayaku berkata, "Kenapa? kamu punya bakat. Tulisanmu bagus, pasti menang," ibuku, "Kamu selalu menyerah sebelum bertarung. Tulisanmu bagus,"
yang aku lupakan: mereka selalu mendukung hobiku, mendukung yang aku lakukan
Ketika penerimaan siswa baru di SMA, aku tidak bisa masuk sekolah favorit pilihanku dan orang tuaku. Ayahku berkata, "Mereka akan menyesal tidak menerimamu," dan ibuku, "Buat sekolah yang menerimamu bangga, karena mereka menerimamu di sekolahnya,"
yang aku lupakan: mereka tidak pernah marah ketika aku tidak berhasil
Dan sekarang, ketika sedang ribut masalah pemilihan jurusan untuk kuliah, ayahku berkata, "Kalau kamu memang mau di satu tempat, pilih saja, dan fokuskan kesana," dan ibuku, "Kalaupun tidak bisa diterima, kan masih ada jalur mandiri. Tidak usah kamu pikirkan uangnya. kan memang ibu sama bapak nabung buat pendidikanmu dan adikmu,"
yang aku lupakan; mereka memikirkan aku............ lebih dari apapun
Dan nanti, ketika aku sudah sukses, yang pertama kali aku lakukan adalah membawa mereka ke tanah suci
Surabaya, 2 Februari 2011
"Mbak? Kok nangis?" tanya ibu yang sedang duduk di sebelahku. Aku menoleh, astaga, aku lupa ini kan tempat umum. Aku segera mengambil tissue dan menyeka air mataku. Kami sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan, dan membeli beberapa perlengkapan yang akan kami bawa besok.
"baca apa sih?" tanya ibu penasaran, aku menyembunyikan kertas itu. "Rahasia hehe," jawabku. Ibu masih terlihat penasaran.
"Paling juga surat dari pacarnya!" jawab adikku yang segera kubalas dengan sebuah jitakan di kepalanya.
"Hey jangan bertengkar disini," bapak menimpali.
Sekarang tahun 2016, 5 tahun yang lalu tepatnya aku menulis tulisan itu. Rasanya aku begitu terharu. Perjuanganku selama ini tidak sia-sia. Oh iya, untuk informasi, setahun yang lalu aku berhasil menerbitkan sebuah buku best seller. Naskah yang dulu batal kukirim, berkat dukungan bapak dan ibu akhirnya berhasil diterbitkan. Dan, aku senang sekali. Karena di sela-sela kesibukanku menggarap skripsi S1 di FKG Universitas Airlangga, aku juga bisa membagi waktu dengan menulis. Karena dengan royalti yang aku terima, kami ber-empat besok InsyaAllah akan menunaikan ibadah Haji
Kenapa? Karena rasanya yang kujalani selama ini hanyalah skenario buatan orang tuaku. Aku bersekolah di salah satu sekolah paling top di kota ini. Karena apa? Karena perintah orang tuaku. Aku masuk ke salah satu kelas top di sekolah ini. Karena apa? Karena perintah orang tuaku.
Kemudian aku memutar otak, seakan puzzle puzzle beterbangan di kepalaku. Aku melupakan beberapa potong memori, tapi tidak lama semuanya kembali muncul di otakku.
Ketika ujian nasional SMP, aku menangis karena takut hasilnya. Ayahku berkata, "Tidak apa-apa, kamu kan sudah berusaha," begitu pula dengan ibu yang langsung mengusap kepalaku, "Tenang aja, hasilnya pasti bagus,"
Yang aku lupakan: mereka mempercayaiku
Ketika aku bingung untuk mendaftar di sekolah SBI, ayahku berkata, "Semua terserah kamu. Kalau mau mencoba bagus, kalau tidak juga tidak apa-apa. Toh semua sekolah sama baiknya," dan ibuku, "Saran ibu coba saja, kalau keterima kan Alhamdulillah. Tapi semua kembali ke kamu. Kamu mau atau tidak?"
Yang aku lupakan: sebenarnya mereka menyerahkan keputusan sepenuhnya padaku
Ketika aku batal mengirimkan karyaku yang tidak karuan ke salah satu lomba menulis, ayaku berkata, "Kenapa? kamu punya bakat. Tulisanmu bagus, pasti menang," ibuku, "Kamu selalu menyerah sebelum bertarung. Tulisanmu bagus,"
yang aku lupakan: mereka selalu mendukung hobiku, mendukung yang aku lakukan
Ketika penerimaan siswa baru di SMA, aku tidak bisa masuk sekolah favorit pilihanku dan orang tuaku. Ayahku berkata, "Mereka akan menyesal tidak menerimamu," dan ibuku, "Buat sekolah yang menerimamu bangga, karena mereka menerimamu di sekolahnya,"
yang aku lupakan: mereka tidak pernah marah ketika aku tidak berhasil
Dan sekarang, ketika sedang ribut masalah pemilihan jurusan untuk kuliah, ayahku berkata, "Kalau kamu memang mau di satu tempat, pilih saja, dan fokuskan kesana," dan ibuku, "Kalaupun tidak bisa diterima, kan masih ada jalur mandiri. Tidak usah kamu pikirkan uangnya. kan memang ibu sama bapak nabung buat pendidikanmu dan adikmu,"
yang aku lupakan; mereka memikirkan aku............ lebih dari apapun
Dan nanti, ketika aku sudah sukses, yang pertama kali aku lakukan adalah membawa mereka ke tanah suci
Surabaya, 2 Februari 2011
"Mbak? Kok nangis?" tanya ibu yang sedang duduk di sebelahku. Aku menoleh, astaga, aku lupa ini kan tempat umum. Aku segera mengambil tissue dan menyeka air mataku. Kami sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan, dan membeli beberapa perlengkapan yang akan kami bawa besok.
"baca apa sih?" tanya ibu penasaran, aku menyembunyikan kertas itu. "Rahasia hehe," jawabku. Ibu masih terlihat penasaran.
"Paling juga surat dari pacarnya!" jawab adikku yang segera kubalas dengan sebuah jitakan di kepalanya.
"Hey jangan bertengkar disini," bapak menimpali.
Sekarang tahun 2016, 5 tahun yang lalu tepatnya aku menulis tulisan itu. Rasanya aku begitu terharu. Perjuanganku selama ini tidak sia-sia. Oh iya, untuk informasi, setahun yang lalu aku berhasil menerbitkan sebuah buku best seller. Naskah yang dulu batal kukirim, berkat dukungan bapak dan ibu akhirnya berhasil diterbitkan. Dan, aku senang sekali. Karena di sela-sela kesibukanku menggarap skripsi S1 di FKG Universitas Airlangga, aku juga bisa membagi waktu dengan menulis. Karena dengan royalti yang aku terima, kami ber-empat besok InsyaAllah akan menunaikan ibadah Haji
Bahasa Inggris
Nggak tau ya sejak kapan, aku jadi sering kena kalau pas pelajaran bahasa inggris. Padahal dulu-dulu nggak pernah lho, bahkan kayaknya aku selalu luput dari perhatiannya guru itu.
Kalau nggak salah sih ya, mulainya dari awal masuk semester 6, habis liburan tahun baru. Nah, aku nggak sengaja bengong pas pelajarannya guru itu. Kena deh sekali. Aku pikir ya nggak apalah toh baru kali ini kena. Eh habis itu, tiap kali aku diem dikit langsung kena lagi -_______________________-
"Aulia ini sekarang rather-rather naughty. She often absent minded," katanya. eeeee -____-
Nah, mulai deh hari-hari penderitaan pas pelajaran bahasa inggris. Aku ngapain dikit, langsung dikomentari naughty lah, absent minded lah, broken heart girl lah, annoying girl lah, bahkan pernah dibilangin 'she doesn't brave to tell him' eeeeeee -_- dan ini berimbas tiap kali dikasih tugas kemungkinan besar aku bakal kerja sendiri. Aku bilang, "Mam, I'm with dita and hillary," gurunya jawab, "No! Aulia alone!"
tapi mungkin nantinya aku bakal kangen dibilangin kayak gitu :)))))))
Kalau nggak salah sih ya, mulainya dari awal masuk semester 6, habis liburan tahun baru. Nah, aku nggak sengaja bengong pas pelajarannya guru itu. Kena deh sekali. Aku pikir ya nggak apalah toh baru kali ini kena. Eh habis itu, tiap kali aku diem dikit langsung kena lagi -_______________________-
"Aulia ini sekarang rather-rather naughty. She often absent minded," katanya. eeeee -____-
Nah, mulai deh hari-hari penderitaan pas pelajaran bahasa inggris. Aku ngapain dikit, langsung dikomentari naughty lah, absent minded lah, broken heart girl lah, annoying girl lah, bahkan pernah dibilangin 'she doesn't brave to tell him' eeeeeee -_- dan ini berimbas tiap kali dikasih tugas kemungkinan besar aku bakal kerja sendiri. Aku bilang, "Mam, I'm with dita and hillary," gurunya jawab, "No! Aulia alone!"
tapi mungkin nantinya aku bakal kangen dibilangin kayak gitu :)))))))
Selasa, 01 Februari 2011
Matematika
Hari ini aku ulangan matematika, dan bego nya aku ngelupain aturan yang aku buat sama aya tentang ulangan matematika -__-
Materinya eksponen sama logaritma. Pas aku udah selesai ngerjain, aku izin ke kamar mandi. Aku balik, anak-anak udah ngumpulin. Yang pertama rabhi, trus lama-lama banyak. Rabhi dapet 98, dea 100 wih aku tambah stres, takut aku gak teliti -.- tapi karena pasrah yaudah aku kumpulin aja dan ternyata BENER AKU GAK TELITI!!!! Duh pengen nanges rasanyaaa, dapet 93 padahal yang lain banyak yang dapet 100 -.- ah yang penting gak remidi -.-
Karena gak terima gak dapet 100, aku mulai nyalah2in. Aku inget tadi aku ke kamar mandi! Ya ampun terulang lagi kejadian waktu itu ;_;
Aku : ay tadi kamu ke kamar mandi?
Aya : enggak ra
Aku : TUH KAAAAAN AH NYESEL AKU KE KAMAR MANDI
Kayaknya emang beneran deh, gara-gara ke kamar mandi nih, aku mbatin gitu. Padahal walaupun aku ke kamar mandi tapi teliti, pasti bisa dapet 100. Kuncinya satu: Teliti dan itu nggak aku banget ;_;
Mulai deh habis itu aku nggeremeng dewe, tapi habis itu bersyukur, yang penting gak remidi HAHAHAHAHA T_T
Materinya eksponen sama logaritma. Pas aku udah selesai ngerjain, aku izin ke kamar mandi. Aku balik, anak-anak udah ngumpulin. Yang pertama rabhi, trus lama-lama banyak. Rabhi dapet 98, dea 100 wih aku tambah stres, takut aku gak teliti -.- tapi karena pasrah yaudah aku kumpulin aja dan ternyata BENER AKU GAK TELITI!!!! Duh pengen nanges rasanyaaa, dapet 93 padahal yang lain banyak yang dapet 100 -.- ah yang penting gak remidi -.-
Karena gak terima gak dapet 100, aku mulai nyalah2in. Aku inget tadi aku ke kamar mandi! Ya ampun terulang lagi kejadian waktu itu ;_;
Aku : ay tadi kamu ke kamar mandi?
Aya : enggak ra
Aku : TUH KAAAAAN AH NYESEL AKU KE KAMAR MANDI
Kayaknya emang beneran deh, gara-gara ke kamar mandi nih, aku mbatin gitu. Padahal walaupun aku ke kamar mandi tapi teliti, pasti bisa dapet 100. Kuncinya satu: Teliti dan itu nggak aku banget ;_;
Mulai deh habis itu aku nggeremeng dewe, tapi habis itu bersyukur, yang penting gak remidi HAHAHAHAHA T_T
Langganan:
Postingan (Atom)
