another blogger

Minggu, 03 September 2017

Day 25 - My Biggest Regret

Terlalu terburu-buru dan tidak berpikir pakai otak dalam membuat keputusan, karena terlanjur ada di titik 'nyaman'.

Temanku pernah bilang, kalau semakin 'nyaman' kamu berada di satu titik, semakin bahaya, karena kamu semakin tidak akan berpikir dua kali untuk memutuskan sesuatu.

Sabtu, 02 September 2017

Ada waktunya dimana kamu benar-benar sudah lelah mencoba, atau sudah lama sejak terakhir kali kau berjuang untuk hal itu, dan sekarang kamu tidak punya keberanian untuk memulai kembali.

Ada waktunya ketika kamu sudah akan mencoba lagi, tiba-tiba dihantui rasa bersalah. Rasa takut, keraguan. Maka saat itu kamu akan mundur.

Ada waktunya saat kamu menyesali keputusanmu untuk mundur. Berusaha menghilangkan semua kemungkinan terburuk, mencoba untuk tidak memikirkan apa-apa.

Ada waktunya setelah kamu mencoba, dan ternyata tidak sesulit yang kau kira. Kau akan bersyukur karena tidak berhenti mencoba. Kau akan memiliki awal yang baru, kau tidak akan takut dengan apa yang akan menghalangi di depan.

Ada waktunya, kau akan berdiri di depan. Berkacak pinggang, dengan pose kemenangan. Kau telah berhasil bertarung melawan musuh terbesarmu: dirimu sendiri.

Jangan ragu untuk mencoba memulai kembali hal yang pernah membuatmu jatuh. Karena, siapa yang tahu bahwa akhirnya akan berbeda?

Coba katakan

Ketika kau sedang berada di dekatku, dan merasa sedih, berulang kali kukatakan, bahwa aku siap mendengarkan ceritamu seharian. Aku punya banyak waktu untuk menanggapi hal yang membuatmu bersedih. Aku bersedia menerima teriakanmu jika kamu memerlukannya untuk merasa lebih baik. Berulang kali kukatakan, bahwa aku ada untukmu. Namun yang kau lakukan hanya diam, menangis, dan terus berkata bahwa kau baik-baik saja.

Aku mulai menepuk pelan pundakmu, berusaha menemani sampai tangismu berhenti. Tidak lama, kamu menunjukkan seolah tidak perlu dihibur, mengatakan bahwa sebaiknya aku segera berangkat kuliah. Baiklah. Mungkin kau butuh waktu dan ruang untuk sendiri. Aku berjalan keluar ruangan, dan tidak lupa untuk memintamu menghubungiku jika butuh sesuatu. Secepat kilat aku akan datang.

Kau tidak berhenti menangis juga sore itu, ketika aku pulang dan membawa sekotak terang bulan keju favoritmu. Berbaring memeluk guling, aku bisa mendengar isak tangismu, yang air matamu entah sejak kapan mengalir deras disana. Tidak kah kau lelah? Sekali lagi kutanya, dan kau bersikeras bahwa kau baik-baik saja. Aku mengambil laptopku, mulai mengatur meja lipat, dan berpindah mengerjakan tugas disampingmu. Karena aku tidak tahu yang kau perlukan, mungkin cukup dengan aku menemanimu melewati sesuatu yang berat ini. Tidak lama, kau bangkit dari posisi berbaringmu, keluar dari ruangan, dan ternyata berpindah tempat ke ruang tv. Mulai menangis hingga suaranya terdengar sampai ke kamar. Oke, kau tak ingin aku menemani.

Aku mencoba tidak peduli dengan semua ini, dan berusaha bersikap biasa saja ketika makan malam di ruang yang sama denganmu. Berusaha tidak menghiraukan suara tangismu yang entah mengapa kedengarannya semakin kencang. Oke, aku sudah tidak tahan.

"Oke, ayo kita bicara. Ada apa denganmu? Menangis seharian seperti orang gila? Ada masalah apa? Kalau aku bisa bantu, tentu aku akan bantu kan seperti biasanya?"

"Aku baik-baik saja."

"Bagian mananya yang baik-baik saja kalau daritadi kau menangis tanpa sebab??"

"Tidak apa-apa. Aku baik-ba..."

"Kalau begitu jangan menangis di depanku! Jangan menunjukkan padaku kalau kau sedang bersedih! Untuk apa kau menangis di depanku, bahkan kau tidak membiarkanku membantumu! Untuk apaa???"

Teriakanku memecah suara tangis yang sedaritadi terdengar. Mungkin seharusnya ini yang daritadi kulakukan untuk membuatnya berhenti menangis.

"Inilah aku. Aku bukan orang yang akan menanyakan terus bagaimana keadaanmu, memaksamu untuk menceritakan apa masalahmu ketika kamu tidak mau membicarakannya. Aku bukan orang yang akan menempel padamu, menghiburmu dengan kata-kata manis disaat kau bahkan sedang tidak ingin ada aku didekatmu. Aku bukan orang yang seperti itu." Berusaha menekan intonasi dan volume suara, aku menarik napas panjang. "Aku bukan orang yang akan memelukmu kalau kau tidak ingin ditenangkan. Aku hanya akan ada disini, kapan pun kau butuh. Jadi tolong, kalau kau tidak perlu bantuanku, berhenti menangis di depanku, berhenti menunjukkan kesengsaraanmu di depanku. Karena kau tahu, itu sangat mengganggu."

Kau harus tau pandanganmu padaku saat itu, seakan aku adalah orang yang paling tidak ingin kau temui. Kau bergegas masuk ke kamarmu, membanting pintu hingga penghuni kos lainnya melongo dan menoleh, melemparkan pandangan penuh tanya ke arahku.

Aku tau aku keterlaluan, menambah beban pikiran masalahmu disaat seharusnya aku mendukungmu. Tapi, kau tahu ini aku, aku perlu kau bicara, aku perlu kau menceritakan padaku sehingga aku tahu bagaimana aku bisa membantu. Dengan berkata bahwa kau baik-baik saja disaat kau sebenarnya tidak baik-baik saja, itu malah mempersulit semuanya. Masalahmu tidak akan terselesaikan, dan aku akan membunuhmu dengan tatapan tajam seperti tadi, tatapan enyahlah dari pandanganku. Aku berjalan menuju kamarmu, mengetuk pelan, dan membisikkan, "Ceritakan padaku ketika kau sudah siap. Kau tahu kan, aku selalu disini."

***

Ini hari ke 4, setelah 3 hari sebelumnya kau bahkan tidak mau bertatapan mata denganku. Kau lebih memilih mengurung diri di kamar, tidak keluar untuk makan, tidak berangkat kuliah, dan kita hanya berpapasan ketika kau pergi ke kamar mandi tengah malam. Aku tidak masalah dan tidak peduli. Karena mungkin kali ini, kau tidak butuh aku untuk menyelesaikan masalahmu. Sungguh, aku tidak mempermasalahkannya. Tapi, hei, aku peduli..

"Tok..tok.." pintu kamarku diketuk pelan. Tidak butuh jawabanku, pintu tersebut membuka perlahan, dan bisa kulihat ujung rambutmu menjuntai disana. Kau mengintip dari balik pintu itu, dengan wajah sembab, tidak karuan.

"Aku sudah siap. Maukah kau mendengar?"

Tidak butuh jawaban bukan?
Aku tersenyum dan segera mempersilahkannya masuk. Kau duduk tepat disampingku, dengan tangan terlipat yang masih gemetar. Air mata mulai menetes lagi dari matamu, aku segera meraih tanganmu, menggenggamnya.

"Aku selalu siap mendengarkan ceritamu, ketika kamu siap bercerita." Kataku sembari memberinya waktu untuk mempersiapkan. Dia tersenyum. Menghela nafas panjang, dan mulai bercerita.

***

Ketika kau memiliki masalah, sebesar apapun itu, tentu kau akan membutuhkan seseorang untuk membantumu, menemanimu. Kau menangis didepan seseorang, karena berharap orang itu akan membantu, bukan? Cukup ceritakan saja bagian yang ingin kau ceritakan, lepaskan semua perasaan sedihmu. Baik teman, orangtua, dan Allah tentu saja, akan siap mendengar dan membantu. Kau hanya perlu meminta bantuan. Karena bagaimanapun, beban akan lebih ringan jika dipikul bersama, dan bagaimana orang lain tahu kau butuh bantuan jika tidak mengatakannya?

Day 24 - What Attracts Me (in love)

1. Stupid and ultra receh jokes
2. FOOOOOOOOOOOOD~~
3. Never ending "dreams" talking
4. Going someplace outside the city centre
5. Share the same Funworld & Timezone thing!
6. Same movie taste
7. Mountain-ing! Instead of beach-ing
8. "Not-so-into-social-media"-type
9. Getting along with kids easily
10. Animal lovers!

Jumat, 01 September 2017

Sebagai seorang yang hampir tiap hari (bahkan hari Sabtu juga) berangkat praktek jam 7 pagi dari rumah, aku termasuk yang engga sempat nonton berita di TV pagi hari. Sampai rumah udah malem, kalo engga pasti kuhabiskan dengan nonton Grey's Anatomy. Kalo udah ngantuk, tidur, engga sempat nyentuh koran. Jadi, ngebacain Line Today merupakan salah satu caraku supaya engga kudet soal berita-berita kekinian yang lagi happening sekarang.

Berita-berita di Line Today super beragam. Mulai dari yang judulnya ringan, judul mencekam, berita kekinian, berita rada ga penting, berita penting banget, satu isi berita tapi beda-beda judulnya, click bait, sampai berita yang bikin pegel, kesel, capek. Salah satunya adalah: Jalur Busway Macet Akibat Motor Pindah Jalur, Supir Busway Diprotes Pengendara Motor.

See? Ini salah satu berita yang bikin pegel, kesel, capek. Siapa yang salah, siapa yang marah-marah coba?

Setelah baca isi beritanya, aku langsung cerita-cerita sama ibu bapak tentang berita tersebut. Sambil kesal dan pegel sendiri. "Heran aku sama orang-orang," yang berujung ditanggapi pasrah sama mereka, "Yaudah kamu capek sendiri nanti kalo terlalu dipikirin. Orangnya aja ngga mikirin kamu. Gitu itu kenapa negara ini ngga bisa maju.."

Di jalan pun ketika lagi nyetir misalnya, aku suka sambat sendiri kalo ngerasain gimana pengemudi dan pengguna jalan lainnya seenak udelnya sendiri. Misalnya ada kendaraan yang awalnya ada di jalur buat belok kiri, dan aku di jalur tengah. Tiba-tiba dia motong di depanku buat belok ke kanan. Atau ada bemo yang tiba-tiba suka ngiri mendadak begitu liat penumpang. Atau kendaraan yang puter balik di tempat yang seharusnya ga boleh puter balik. Atau parkir di tempat yang ada larangan parkirnya. Ngga disiplin banget. Kudu mengumpat ngga sih rasanya? :)

Aku pun pernah dibonceng sama temanku naik motor, dan temanku ini adalah salah satu pengemudi yang agak ngga taat peraturan lalu lintas. Puter balik di tempat yang ngga seharusnya, motong jalan kendaraan, tiba-tiba belok kiri setelah dia lama di jalur kanan, yang berakibat dia sering banget di klaksonin sama kendaraan lain. Dan aku selalu jujur sama dia, "Kamu adalah salah satu yang bakal aku klaksonin terus-terusan kalo di jalan." atau, "Kalo aku jadi mobil tadi, aku juga bakal klaksonin kamu. Malah lebih dari mobil tadi." Dia cuma meringis dan tetap menjalani kebiasaanya..... aku juga cuma bisa ketawa dan berdoa dalam hati biar ga ketilang aja. yha. Ati-ati aja di jalan ya sob, dengan style nyetirmu aku cuma bisa doain hati-hati di jalan :"))) Tapi sekarang kayanya kebiasaan dia udah membaik deh. Wkwkw

Belakangan lagi marak satu berita menyangkut almamaterku. Kaget banget aku rasanya baca salah satu headline berita: Mahasiswa Tertangkap Memalsukan Sertifikat, Demo Menolak Membayar SPP. Paham kan kemana arah topik bahasannya ini? Engga kok, aku ngga berniat buat ngebahas dari sudut pandang siapa-siapa disini. Cukuplah aku eneg bacain postingan di timeline Line yang isinya cerita dari dua sudut pandang: mahasiswa yang tercyduk malsu sertifikat dan mahasiswa jujur yang kena imbasnya gara-gara ada yang malsu. Both of them adalah teman dekatku.

Seriously? Sekarang kualitas orang-orang kita kaya gitu?

Anak yang waktu UNAS SD ngga mau contekin temannya, dibully habis-habisan, dicela sama orang tua murid lainnya.

Anggota DPR yang terlambat datang ke Rapat karena alasan terlambat, minta dibangunkan Apartemen yang dekat kantor supaya ngga telat lagi.

Artis-artis yang ngga bayar pajak kendaraan mewah mereka, alasannya ngga sempat dan lupa, pulang syuting selalu pagi.

Orang yang dengan bangganya mengumbar perilaku, attitude, kebiasaan buruk di socmed, merasa di judge orang banyak padahal itu hidupnya. Menolak menayangkan konten yang lebih mendidik, merasa bahwa itu tanggung jawab orangtuanya.

Orang-orang yang bikin jalur antrian sendiri di jalan. Ngga mau sabar.

Buang sampah sembarangan di jalan. Padahal katanya Surabaya udah kaya rumah sendiri, tapi ngga mau ikut menjaga kebersihan rumahnya.

Orang-orang yang pekerjaan utamanya mengadu domba banyak orang. Membuat hate speech buat menyudutkan satu golongan.

Boncengan bertiga bapak-ibu-anak, tapi anaknya ga pake helm. Pak, bu, kalo misal terjadi hal yang ngga diinginkan, terus kepala anaknya siapa yang ngelindungin? Situ berdua enak pake helm :")

Seriously? Seperti itu? Seperti itu lho kita... :")

Disini aku ngga ngejudge ya. Aku bukan merasa paling benar, paling punya pikiran hebat. Engga kaya gitu. Akupun juga masih ugal-ugalan kalo nyetir, masih suka denial, tapi aku selalu berusaha buat menaati peraturan. Berusaha dan belajar supaya jadi orang yang lebih baik lagi. Berusaha memikirkan orang lain juga.

Intinya adalah, ayo kita biasakan diri supaya disiplin dan mematuhi peraturan. Menjalankan dan menaati peraturan dengan baik. Berpikir lebih terbuka, lebih santai. Banyak-banyak membaca berita, diskusi dengan orang banyak. Sumpah deh, selain kesel, pegel, capek, disisi lain aku sedih karena orang-orang kita seperti itu.. Andai aja kita bisa ngga memikirkan kepentingan sendiri, andai kita juga memikirkan orang lain. Mungkin karena bidangku adalah medis dan kesehatan, jadi kami di mind-set untuk mementingkan urusan pasien, urusan orang lain, yang Alhamdulillah memberikan dampak positif.

Kebaikan selalu dimulai dari hal yang kecil kok, misalnya berhenti di lampu merah waktu ada orang yang nyebrang, dan tetap berhenti sampai lampu hijau walaupun uda ngga ada yang nyebrang.

Yuk mari sama-sama belajar dan berubah ke arah yang lebih baik :")