another blogger

Sabtu, 22 Oktober 2011

transisi

Waktu aku sama temen-temen kemaren minta tanda tangannya kakak panitia buat Memory Book Ospek, kakaknya tanya, "Menurut kalian, sifat SMA kalian yang harus kalian hilangin untuk survive disini apa?" Aku speechless.

Dari 4 kali mabim (atau bahkan dari awal ospek), kakak-kakaknya selalu bilang "Kalian udah bukan anak SMA lagi, dek!" atau, "Kalau gini keliatan banget nggak dewasanya," kadang-kadang aku mikir, dari aspek mana sih mereka nilai kita sebagai anak SMA atau mahasiswa. Atau karena kita (tepatnya aku) ngga ngerti ini yang nunjukin kalau aku masih SMA banget?

Balik lagi ke waktu pas aku minta tanda tangan, aku bener-bener mikir dulu, untung aja yang ditanyain bukan aku, tapi temenku. Selagi temenku jawab, aku bisa mikir-mikir dan sedikit dapet pencerahan dari jawaban temenku. Dia jawab, "Kalau disini, tugas-tugasnya lebih banyak lagi, banyak kegiatan, jadi harus bisa beradaptasi."
Bedanya apa sama SMA? Emang sih dulu aku jarang ada tugas, tapi secara ngga langsung, tugas-tugas SMA yang aku kerjain dan wajib dilaksanain tiap hari itu belajar dan ngerjain soal-soal, guru-guru mendoktrin kaya gitu (walaupun aku baru mulai semangat menjelang unas-snmptn :p).

Begitu pelajaran filsafat, aku baru ngerti. Dosennya nanya, dan ngga ada yang jawab, atau ngajuin diri njawab pertanyaan itu. Yeah, that's it. Aku tau aku orangnya pasif banget. Aku tau sebenernya dari 170 anak yang ada di ruangan itu tau jawabannya semua, cuma..... ya ngga tau kenapa ngga ada yang mau angkat tangan. Kalau aku pribadi, aku emang pasif dan males ngejawab pertanyaan-pertanyaan. Kita kurang berani nyampein pendapat. Hal yang sama kejadian berkali-kali pas ospek dan mabim. Selalu kalau kakaknya tanya, kita diem aja. Karena kita kurang kritis, ya dari kesimpulanku sih, itu salah satu sifat SMA :|

Yang kedua, mungkin ini berlaku buat aku sendiri. Aku individualisnya tinggi banget. Kaya yang aku pernah post sebelumnya, aku merasa bisa ngerjain semuanya sendirian. Sok banget kan? Padahal aku sendiri tahu kalau manusia punya batas-batasan sampai mana kekuatannya. Emangnya aku dewa? Aku juga manusia, tapi manusia yang terlalu sombong.
Di kuliah, kita dikasih banyak tugas kelompokan. Disini kita dilatih buat nggak individu. Gimana kita ngordinir anggota kelompok biar hasilnya maksimal, gimana kita diskusi, gimana kita nggak mentingin pendapat kita sendiri dan merasa yang paling benar. Mungkin maksud kakak-kakaknya, sifat SMA kita itu ngga boleh mentingin diri sendiri. Dan aku begitu :|

Tapi belakangan ini, aku makin sadar aku ngga bisa kerja sendirian. Dengan banyaknya tugas yang harus dikerjain, aku nggak bisa nyelesain semua tugas itu sendirian. Ada mereka yang bantuin. Ada mereka yang ngangkat seribu ton batu gedhe bareng aku. Tiap kali aku inget tugas banyak, aku mensugesti diri sendiri, "Kamu nggak sendirian kok." Ini mengikis rasa individual ku yang mendominasi. Seenggaknya, sekarang aku sadar kalau kerja kelompok itu menyenangkan hahahaha

Kaya tas kan?
Kalau kamu pakai tas selempangan, yang cuma bisa dipikul satu lengan, 
pasti rasanya semua beban tertumpu disitu. Berat banget.
Tapi ketika kamu pakai ransel yang bisa dipikul dua lengan, 
rasanya bakal lebih ringan ;)




Mungkin masih banyak lagi sifat-sifat yang harus diubah disini. Mungkin sekarang aku belum sadar. Dan ngga bisa tak tek tak tek, pelan-pelan bakalan aku ubah hahahah~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar