another blogger

Selasa, 26 September 2017


Teruntuk bu dokter kesayanganku,
bosque andalangw
Udah 8 tahun sejak kejadian, "Aya ya?" "Rara, ya?" di tempat wudhu sekolah.
Atau kejadian absurd yang ternyata kita uda saling jadi friends di YM. Ngga sadar kalo uda punya kontak masing-masing dari lama. Malah kepikiran "Ini siapa ya?" "Ini Rara. Ini siapa?" "Ini Aya." "Aya?" "Rara?"
Pokoknya gak jelas pol..

Walaupun pertemuan pertama kita di Friendster yang berujung sapa menyapa di tempat wudhu sekolah agak absurd,
tapi ku tetap padamu kok, Yak.
Siapa sangka pas SMA kita satu sekolah lagi, sekelas bahkan, dan jadi seakrab ini 😂😂 Sampai sama-sama mengejar cita-cita dan cinta bersama. Kuliahpun tetanggaan, dan selalu sempat ketemuan. Bahkan pas lagi gak pengen ketemu ya bisa aja ketemu, di mall sekalipun....

Happy birthday!
Semua yang baik-baik untukmu, Yak.
Semoga segera dipertemukan dengan orang yang tepat di waktu yang tepat pula ;)
Dan kalo suda tepat, jangan galak-galak ya..

Surabaya, 25 September 2017
Love, Rara.

Love-Hate Relationship


Ada waktu itu, dimana aku lebih tinggi darimu.
Lebih punya banyak cerita. Lebih bisa kau andalkan dari siapapun.

Ada waktu itu, ketika aku adalah orang yang sangat kau percaya. Aku adalah orang pertama yang kau temui sepulang sekolah. Aku adalah keluarga, satu-satunya keluarga yang selalu ada disisimu. Berjuang bersama menghadapi beratnya hari pertama di sekolah baru beberapa kali, tanpa ibu-bapak.

Sekarang, anak kecil yang dulu selalu mengikuti kemanapun aku pergi sampai sebal rasanya, sudah dewasa, dan tidak butuh berlindung dibelakangku lagi. Kau siap berjalan sendiri tanpa bayangku. Tapi percayalah, bahwa selamanya kau akan tetap menjadi anak kecil menyebalkan seperti dulu. And I always got your back. Siap mengintimidasi perempuan yang menyakiti hatimu *cieh

Happy birthday, dek Raka!
Be a good man and a good doctor!



Sabtu, 23 September 2017

Epic

Sebagai anak yang Ojol-for-Lyf, tadinya aku ngerasa postingan-postingan tentang kejadian-kejadian epic antara penumpang dan driver ojek online (ojol) cuma dibuat-buat. Tapi belakangan aku merasakan sendiri gimana epic nya berkomunikasi.....

R = Rara
D = Driver Ojol

*Driver datang menjemput. Berhenti di depan pager*
R = *ragu-ragu mau naik soalnya bapaknya masih sibuk dengan hpnya* Em.. ini saya naik sekarang, pak?
D = Engga mba. Besok aja naiknya...
R = humoris juga nih si bapak.....

*Suatu hari naik ojol dari rumah ke kampus*
D = Mbaknya kuliah di Unair ya? Ambil gigi mba?
R = Iyaa hehe
D = Kalo saya di I*S mba... hehehe
R = Ooh masih kuliah mas?
D = Saya uda lulus mba. Angkatan 2006 hehe
R = Ooh yaya...
D = Mba katanya anak FKG banyak yang cari pacar anak I*S ya?
R = *keselek*
D = Mau saya bantu cariin mba?

*Pesan ojol pakai hp bapak*
D = *Udah sampek. Celingak-celinguk cari orang*
R = Pak.. atas nama Nurdianto ya?
D = Iya mbaa. Itu mbaknya?
R = Iyaa. Saya pak
D = Ooh saya kira Nurdianto itu laki-laki..
JADI BAPAKNYA PERCAYA NAMAKU NURDIANTO??

*Mau naik ke motornya*
D = Mau pakai masker mba?
R = Ngga usah deh mas, makasih
D = Gapapa dipake aja mba, biar tetap kinclong...
*bingung harus tersanjung apa gimana..*

Kamis, 21 September 2017

Malam Kamis Bersama Dhea


Sedari sore sampe hampir isya, aku chat sama Dhea yang selalu ujunh-ujungnya adalah membahas kehidupan. Saling sharing kesimpulan yang diambil dari pengalaman hidup teman-teman kita. Dan sore tadi aku baru sadar, kalo kami (aku dan dhea) sok banget ngomong-ngomong begitua , membuat spekulasi-spekulasi padahal kami berdua sama-sama jomblo wkwkwkw :))) komentar-komentar kami uda kaya expert di bidangnya aja. Bahkan Dhea yg jomblo kongenital (gimana nih dhe) bisa menelurkan petuah-petuah hidup mencari pasangan :))) Semua berdasarkan pengalaman teman-teman kami yang suka curhat kisah mereka. Pengalaman adalah guru terbaik kan?

Tiap kali kumpul sama temen-temen, topik bahasan yang hot adalah ya soal ini. Bahkan ketika kumpul sama temen cowok, mereka juga memikirkan hal yang sama. Sampe nanya-nanya tentang "Lamaran kira-kira butuh biaya berapa sih?" Hahaha. Teman-teman kebanyakan yang terpatok dengan "Udah 23-24 tahun" dan galau. Sebagai penganut aliran santai, 23 tahun sampai 3 tahun ke depan adalah waktunya mengasah diri :") Jadi, kalau belum 26 tahun, ngga usah galau dulu. Aliranku......

Karena sering sharing sama teman-teman yang sudah atau akan menikah, aku jadi berpikir kalau untuk sampai di fase 'siap menikah' itu ngga mudah. Banyak yang harus disiapkan. Banyak yang dipikirkan, ya walaupun kalau nunggu siap, kita ngga bakal siap-siap sih. Tapi senggaknya kita punya pegangan lah. Karena nikah itu ngga main-main, ngga bisa putus seenaknya dengan alasan 'udah ngga cocok lagi'. Butuh banyak berdoa dan yakin sama orang. Yang mana, aku belum sampai di fase itu. Entahlah ya, aku bener-bener aliran santai. Senggaknya santai sampai umurku 26 tahun hahaha. Gara-gara didoktrin sama ibu yang selalu cerita beliau menikah umur 27 tahun.

Banyak teman-teman yang menikah di usia muda. Banyak juga yang memutuskan buat sekolah lagi, memperdalam ilmu, meningkatkan kualitas diri dulu dengan menunda pernikahan. Ada juga yang self-oriented. Semuanya pilihan. Dan masing-masing punya kepuasan tersendiri dengan pilihannya. Semua tentu ada yang dikorbankan. Salah satunya adalah waktu. Teman-teman yang udah menikah, sekarang ngga hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga mikirin suaminya. Yang mana waktu main bareng teman-teman pasti sangat terbatas. Tapi disisi lain, mereka punya kebahagiaan lain yang ngga dirasakan oleh teman-teman yang masih sendiri. Teman-teman yang giat meningkatkan kualitas diri juga gitu, sibuk sendiri, akhirnya kesepian, tapi dia punya kepuasan hati dalam pencapaiannya. Semua punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan ngga ada yang salah dengan rencana tiap orang yang berbeda-beda. Karena kita berpegang pada prinsip yang juga beda. Buat apa melakukan sesuatu yang ngga nyaman, yang ngga sejajar dengan prinsip kita, hanya buat memenuhi ekspektasi orang? Atau mengikuti gaya hidup masyarakat. Banyak yang nikah muda, pada pengen nikah muda, tapi apa persiapannya sudah mantap? Apa sudah siap? Siapapun pengen lah menikah, kalau sudah siap.

Jadi, jangan berkecil hati kalau jalanmu dan jalan orang-orang di sekitarmu berbeda. Semua ada waktunya sendiri-sendiri. Aku sama Dhea nih walaupun suka mengeluh "Kapan ada yang nemenin kesana kemari," tapi tetap menikmati kesendirian ini *eaeaeaea* Seperti yang aku bilang, kamu jadi punya banyak waktu ngelakuin hal-hal lainnya. Berteman dengan banyak orang, kenalan dengan orang-orang baru, memperluas koneksi, update ilmu baru. Bukan berarti yang udah punya pasangan ngga bisa kaya gini juga sih.. cuma... ya nikmati waktu mandiri mu lah *ini bukan menghibur diri*

Selalu bersyukur dengan apa yang diberikan. Banyak berdoa supaya dikasih yang terbaik. Karena ngga ada yang lebih baik lagi daripada rencanaNya ^^

Jam menunjukkan pukul 2 siang, dan aku masih duduk santai di lorong. Aku ngga terburu-buru, atau dikejar waktu. Hanya mengingatkan saja kalau sekarang sudah pukul 2, yang artinya, 30 menit lagi aku harus menghadiri suatu acara penting. Walaupun bintang acara tersebut bukan aku, tapi tetap saja penting untukku. Setidaknya, setelah acara tersebut, aku bisa memutuskan bagaimana akan melanjutkan hidup.

Langit siang (menuju sore) itu agak mendung, ngga tampak terik seperti biasanya. Bukankah harusnya ini yang ditunggu semua orang? Suasana sejuk di kota yang sehari-hari nya panas menyengat kepalaku. Tapi tentu bukan hari ini, kalau kau punya acara besar. Aku melirik ke arah jam tangan, jam dua lewat satu menit. Oh, waktu memang berjalan sangat lambat untuk momen yang ngga menyenangkan seperti sekarang.

Secara ngga sengaja, aku menjatuhkan corsage yang sudah terpasang di jasku. Bunganya terlepas dari pin. Aku mencoba memperbaiki benda kecil ini, menyangkutkan bunga di tengah-tengah pin, bahkan menusuk batangnya agar mau menancap.

"Hei.. hei bukan gitu caranya." Mira datang dan meraih corsage itu. "Kamu tuh kasar banget ya sampai lepas gini bunga nya."

Dalam waktu satu menit, duniaku berhenti, dan mataku terus memandang sosok perempuan yang dengan tatapan seriusnya memperbaiki benda tolol yang aku bahkan baru tahu kalau itu disebut 'corsage'. Padahal, bisa saja aku meminta corsage yang baru, atau setidaknya Mira membantuku meminta yang baru, bukan memperbaikinya.

Aku tahu dia memang seperti itu. Selalu bersemangat dan ngga mudah menyerah. Bahkan saat sedang memperbaiki corsage ku, dia masih sempat menceritakan candaannya yang seperti biasa ngga lucu, tapi selalu kutunggu. Dia masih sempat bercerita bagaimana tersiksanya dia dengan bulu mata sepanjang 15 centimeter -ini caranya menyebut bulu mata yang sangat panjang hingga kadang menusuk sendiri ke matanya-, bagaimana wajahnya terasa kaku karena ada beberapa lapis bedak, bagaimana dia menahan air mata yang keluar saat eyeliner diaplikasikan ke matanya berulang kali, hanya untuk acara hari ini. Tapi bagaimanapun dia menceritakan penderitaannya hari ini, aku bisa melihat bahagia di mata dan wajahnya. Senyum yang terus mengambang sejak pagi, serta tatapan mata yang tegas. Seperti yang selalu kusukai darinya.

"Yak. Selesai!" Dia membantuku memasangkan corsage itu di jas hitam kebanggaanku. Yang baru kupakai sekali saat wisuda. Mungkin dua, ketika prom night SMA, yang pada akhirnya aku ngga jadi datang karena diare. Aku masih ingat, Mira datang ke rumah keesokan harinya, membawakan banyak minuman isotonik agar aku ngga dehidrasi katanya, setelah diare tadi malam. Kami saling mengenal sejak lama. Mengisi kehidupan satu sama lain. Dia bahkan tau tiap detail pasien yang aku hadapi selama masa dokter muda. Aku selalu membawakannya makanan ketika dia jaga, begitu pula sebaliknya. Kami seperti dua orang yang ngga terpisahkan.

"Yuk, kamu ngga masuk ke dalam? Kok nunggu disini?" Aku menggeleng.
"Duluan aja. Aku mau..." sambil mengkode dengan kedua jariku di depan mulut. Kemudian ekspresi wajahnya berubah heran.
"Nggak usah sok sok gitu deh. Sejak kapan kamu merokok?" Dia tertawa sambil menyenggol pundakku, "Orang pakai inhealer aja kamu batuk-batuk. Inhealer lhooo. Inhealer..."

Percakapan seperti ini yang setiap hari selalu kusukai saat berada bersamanya. Di depannya, aku ngga perlu berpura-pura jadi orang lain. Aku ngga perlu dan ngga pernah canggung. Nyaman kurasa? Dan seperti biasa, rasa nyaman itu memang mengerikan.

"Beneran, Mir, duluan aja. Kamu ditungguin banyak orang tuh.." aku membantunya berdiri karena dia tampak begitu kesusahan. Gaun panjang yang membalut badannya tampak ribet dan.... apa ya bilangnya? Tampak ngga nyaman dikenakan?
"Oke deh aku kesana ya. 15 menit lagi kayanya mau dimulai. Ketemu di dalam yaa." Dia berjalan pelan menuju ruangan di seberang. Ngga hanya gaun, tampaknya sepatu hak tinggi yang dia kenakan juga tampak ngga nyaman. Aku tau bahwa dia bukanlah perempuan yang mengenakan sepatu hak dan baju-baju imut. Di ingatanku, dia adalah perempuan super ngga modis, yang sehari-hari mengenakan kaos, jeans, dan flat shoes. Walau begitu dia tetap mengenakannya untuk hari ini. Aku melambaikan tangan.

"Mira.." dia menoleh, masih dengan senyum itu. "Good luck ya. Kamu cantik hari ini..."

...dan hari-hari lainnya, seperti biasa.

Dia mengacungkan jempolnya. Kemudian melanjutkan jalan lambatnya menuju ruangan itu. Saat pintu dibuka, tampak banyak orang yang membantu Mira berjalan, dengan tatapan terpesona akan kecantikannya. Pujian demi pujian terdengar hingga ke telingaku. Memang, dia cantik sekali.

Jam sudah menunjukkan pukul 2.30, aku masih belum beranjak untuk bergabung dengan yang lain. Padahal seharusnya, aku ada disana. Menyaksikan perempuan.. tidak, wanita, yang selama 7 tahun ini kucintai akan menjadi bagian dari hidupku. Badanku terasa kaku. Tidak bergerak. Apa aku bisa menghadapi semua ini?

Ngga ada alasan untukku ngga berbahagia hari ini. Dan akhirnya akupun berani melangkahkan kaki masuk ke ruangan itu. Lantunan lagu-lagu romansa terdengar begitu aku membuka ruangan.

"Mari kita sambut mempelai wanita dan mempelai pria. Silahkan maju ke depan." Erik, sahabatku, memandu jalannya acara. Mempersilahkan mempelai untuk maju ke depan.

Dari ujung ruangan, aku melihat Mira, dengan tiara di atas kepalanya, berjalan dengan anggun. Jantungku berdebar, seperti mau copot dibuatnya. Senyumnya masih sama, dan kini disertai mata yang berkaca-kaca, menahan air mata bahagia. Daridulu dia selalu bercerita, ingin mengenakan tiara di kepala saat menikah. Dan hari ini, dia benar-benar mendapatkannya.

Mira melingkarkan tangannya pada Edo, dan jalan ke depan, menyita perhatian para tamu undangan. Mereka berdua berjalan melewatiku, yang sudah menunggu di depan. Mira tersenyum padaku, wajahnya memerah. Tangan kirinya meraih tanganku. Bisa kurasakan genggaman yang erat pada lenganku. Aku membalas senyumnya.

"Semoga bahagia ya, Mira si kakak ipar.."
Air matanya menetes mendengar kalimatku barusan. Dia membalasnya setelah menarik napas panjang. "Mohon bantuannya ya, Dio si adik ipar.." sambil tertawa kecil.

Aku melepas genggamannya, kemudian ia melanjutkan jalannya. Tentu saja didampingi Edo, kakak laki-lakiku. Mereka tampak bahagia di depan.

Hatiku hancur hari itu. Tapi aku sama sekali ngga menyesal.

Selasa, 19 September 2017


#SavetheDate #February

Senin, 18 September 2017

Days of Fan-Grey-ing


Beberapa bulan terakhir ini, aku maraton episode serial TV Grey's Anatomy. Dari season 1. Iya, tau kok kalo sekarang bahkan udah season 14 di TV. Telat banget ya..... Dan sejak pertama nonton episode 1, aku ngga bisa berhenti nonton, sampai dibelain tiap jaga bawa laptop buat nonton kalo lagi ngga ada pasien. Bener-bener addicting!

Ceritanya bener-bener kompleks dan selalu ada twist yang ngga bakal ketebak. Kaya semakin aku nonton, semakin sadar kalo bayanganku tentang hidup masih polos banget, padahal kehidupan sesungguhnya ngga se-'soft' itu. Bahwa waktu yang kita punya ngga banyak. Pertanyaan-pertanyaan kaya, "Kok bisa sih?" "Ya ampun, ya tinggal ngomong aja," "Itu masih bisa diperbaikii.." "Duh kenapa ga mau sabar sih? Jadi merugikan orang," dan berbagai macam pertanyaan yang ternyata jawabannya, "Engga semudah itu." atau kadang, "Iya. Semudah itu." Pesan moral yang aku dapet dari kehidupan tokoh-tokoh di serial ini yang supeeer ribet, masalah ga selesai-selesai, dan saling berhubungan satu sama lain adalah: kita ngga boleh stuck di satu masalah. Kita buat kesalahan, kita hadapi, kemudian melanjutkan hidup.

Selain jalan cerita yang berkelok-kelok, Shonda Rhimes dan para cast bener-bener bisa ngebuat karakter tiap-tiap tokoh hidup. Aku jadi baper tiap kali liat Owen sama Jackson, yang baru muncul di season 5 atau 6 gitu ya. Dimana tokoh dua orang itu selalu bisa bikin yang nonton ber-uuuuuw uuuuuw ria :")


Owen Hunt
Jackson Avery
Major Owen Hunt adalah dokter Angkatan Darat yang akhirnya keluar dari AD dan kerja di Seattle setelah mengalami kejadian yang bikin dia mengidap P.T.S.D (Post Traumatic Stress Disorder). Dia pertama kali muncul di Greys Anatomy sebagai penolong orang yang butuh chest tube di jalan, dan dia dengan cepatnya menusukkan pulpen di dada pasien buat menolong. Setelah itu dia diangkat jadi Head of Trauma di Seattle Grace Hospital dan akhirnya sekarang jadi Chief of Surgery. Selama di Seattle ini, dia punya love story yang supeeeer bikin sedih :") Entahlah, problematika pernikahan orang barat sama orang Indonesia beda sih ya. Selain problematika pernikahan, dia juga sempat harus ngerawat istrinya yang sering banget kena musibah, tapi dia tetep sabar banget dan....... suami goals banget lah pokoknya :") Kalo liat dia atau denger dia ngomong, kayanya aman gitu eaeaea

Jackson Avery adalah residen bedah seangkatan Meredith yang akhirnya gabung sama tim Seattle karena ada penggabungan Rumah Sakit Mercy West - Seattle Grace. Pertamanya, tokoh Jackson ini nyebelin banget, manalagi serem menurutku, walaupun wajahnya 'cantik'. Setelah ada suatu kejadian, tim Mercy West akhirnya tinggal dia berdua sama April Kepner, yang endingnya kisah mereka juga ngga kalah sweet dari Owen-Christina :") Jackson selalu stand up tiap kali ada yang gangguin April, belajar bareng, pokoknya ngedukung April gitu deh. Kalo diibaratin anime Jepang ya, dia ini macam tokoh tsundere favorit cewe-cewe pengagum shoujo xD Dia semacam Capt Kirk versi eksotis (?) :))

Selain dua tokoh ini, aku juga ngefans berat sama Addison dan Teddy. Walaupun bukan tokoh yang bertahan muncul sampai Season 14, mereka berdua ini cukup bisa mencuri hati, karena kepribadian mereka. Karakter tokoh mereka bener-bener kuat, jadi di tiap episode, kaya bisa ketebak kalo ada mereka, bakal komentar kaya gimana.

Teddy Altman
Addison Montgomery
Pokoknya, kalau nonton series ini, selain operasi dan kasus-kasus mereka yang aneh-aneh, bakalan terkesan sama jalan pikiran tiap tokoh, dan cara mereka menyelesaikan masalah masing-masing. Emang sih background ceritanya adalah Rumah Sakit dan banyak kasus-kasus Kedokteran, tapi ngga seberat itu. Istilah-istilah yang dipakai sederhana, dan selalu ada penjelasan setelahnya, jadi, jangan khawatir bakal ngga paham :D

Buat kalian yang belom nonton, aku sangaaat ngerekomendasikan serial tv ini buat ditonton! :D

Jumat, 15 September 2017

Yang mana

Ketika kamu pengen sesuatu, ada dua kemungkinan:
1. Kamu bener-bener pengen sesuatu itu
2. Kamu cuma penasaran

Beda tipis ya...

Selasa, 12 September 2017

Trip to B29 Last Weekend



Everything will be just fine. The storm will pass, and the sun will rise again.

Jumat, 08 September 2017

Vlogging before it was cool



Iseng-iseng buka video-video yang pernah aku post di YouTube dan nemu video ini wkwkw. Ibuku vlogging before it was cool! Video ini diambil tahun 2012, ceritanya mau ngasih surprise ulang tahun buat bapak yang waktu itu lagi ada kerjaan di luar kota. Jadilah aku sama ibu jalan-jalan nyari kado. Baru sadar sekarang lagi ngehits banget bikin dokumentasi beginian. Maaf ya mukaku malu-malu in banget jaman dulu, dan masih malu-malu buat muncul di kamera. Jadinya ya begitu.. Padahal sekarang, malah udah bikin 4 video..............
Sometimes, some posts are better just stay in the draft...

Kenapa Ngga Kamu Aja?

Ibu: Rak, ini tolong bayarin dong di kasir *ngasihin uang*
Raka: Nih bayarin mba *sambil ngasihin uangnya ke aku*
Aku: Kenapa ngga kamu aja? *menepis uang tersebut*
Raka: Yauda aku bayar, kamu yang nyetir pulang
Aku: *cepet-cepet ngambil uangnya*
Padahal dia sama kasirnya, cuma berjarak 1 meter........

Bapak: Wah harus manggil cak jum nih buat masang lampu kamar mandi
Aku: Kenapa pak? Mati lampunya?
Bapak: Iya tinggal diganti aja sih
Aku: Kenapa ngga Raka aja?
Raka: Kenapa ngga kamu aja? *tiba-tiba nyaut*
Padahal dia lagi di lantai bawah, dan aku di atas. Dan aku cewek (maaf untuk genderisasi ini.....)

*mau pesen makanan*
Bapak: Tolong panggilin mbaknya dong
Aku: *ngelirik ke arah Raka*
Raka: Kenapa ngga kamu aja???

*mau pesen makanan part 2*
Raka: Mbak, aku pesenin satu aqua dingin dong
Aku: Kenapa ngga kamu aja pesen sendiri??

Raka: Kucingnya uda dikasih makan belom?
Aku: Ngga tau, belom paling
Raka: Kok ngga dikasih?
Aku: Kenapa ngga kamu aja yang kasih?

Dan begitu terus, sampe Spongebob hamil anaknya Squidward.......

That's my 'melimpahkan tugas ke satu sama lain' relationship with my lil bro. Kalo ada yang disuruh, pasti nyuruh yang lain......

Day 30 - Hopes for My Blog

Kyaaaa *ala ala cewe Jepang*
Alhamdulillah sudah di penghujung challenge yang biasanya ngga pernah aku selesaikan! *terharu* *nangis bombay* ngga nyangka waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemaren aku lahir (?)

Terima kasih buat teman-teman yang sering bacain blog ini, walaupun isinya ngga jelas, banyak curhatnya, banyak marah-marahnya, banyak berkeluh kesahnya, banyak galaunya, banyak ngomongin tentang diri sendiri nya, pokoknya makasi sudah menemani di perjalanan menyelesaikan challenge ini. Tanpa kalian, aku ngga bakalan sampai di Day 30 😭😭 *berasa artis* *berasa blogger terkenal*

Aku sempet kaget waktu beberapa orang ada yang nanya, "kok ngga dilanjutin Ra?" Atau "uda ngga pernah nulis lagi nih?". Yang pertama ada dipikiranku adalah, "Ternyata orang ini baca! Ternyata dia tau blogku! Omg......" dan banyak orang-orang yang tidak kuduga ternyata baca blogku. Apalagi pas aku iseng-iseng cerita sama salah satu teman sekelompok koas, namanya BangOtot, dia dengan heran nya bilang, "Lah Raaa aku aja udah tau blogmu dari jaman kita PKL....." bahkan orang kaya bangotot (yang aku samasekali ngga kepikiran dia bakal baca) ternyata baca! Antara sedih, malu, sama senang juga sih. Malu soalnya isi blognya ngga berkualitas, sedih soalnya pada banyak yang tahu kegalauanku dan ternyata aku suka curhat, senang soalnya ditunggu-tunggu #eaeaea campur-campur dah rasanya. Huhuhuhu terima kasih ya teman-teman~!

Harapan untuk blog ku adalah, semoga bisa meningkat kualitas postingannya. Semoga bisa jadi lebih baik, seperti penulisnya yang sekarang sibuk meningkatkan kualitas dan berbenah diri *cie*
Semoga aku bisa menelurkan (?) tulisan-tulisan inspirasional, must-read-posts, dan informatif. Proyek selanjutnya adalah diskusi tentang isu illuminati as request dari sahabatku tercyduck: Dhea Vensa wkwkwk yang sama-sama mendalami dark-side of the world.

Semoga aku selalu punya waktu buat nulis ya, selalu punya cerita yang bisa aku share, selalu punya bahan buat bikin pembaca terhibur, selalu punya sesuatu yang memotivasi orang untuk membaca dan menulis. Selama challenge ini, aku belajar buat nemuin lagi sense menulis yang lama sudah hilang, tapi ternyata selama ini bukan hilang, tapi sense menulisku berubah. Kaya umur kita yang makin bertambah. Makin lama isi postingannya makin panjang, entah isinya berfaedah ato engga pokoknya panjang aja (contohnya kalimat ini udah ngowos banget). Yah pokoknya aku bakal lebih banyak lagi belajar, supaya bisa tetap update blog! Jangan bosen-bosen dengar ceritaku ya :")

Sampai ketemu di postingan selanjutnyaaa!

Kamis, 07 September 2017

pets!

Semenjak kejadian penemuan bayi anak kucing di semak-semak dalam rumah (jangan tanyakan kenapa di dalem rumah bisa ada semak-semak), rumahku jadi tempat melahirkan ibu-ibu kucing, dengan atau tanpa papa kucing. Seringnya sih yang tanpa papanya. Beberapa kali aku nemuin di halaman rumah, ada keluarga kucing yang anak-anaknya baru lahir. Tiap ada anak kucing di rumah, orang-orang rumah langsung heboh. Tiap sore nengokin mereka dari jendela. Kaya selalu pengen update perkembangan si bayi-bayi kucing itu. Apalagi bapak..

Kejadiannya pas aku lagi ngga di Surabaya, tiba-tiba dikirimin foto anak-anak kucing itu. Awalnya jumlahnya ada 3 ekor. Lama-lama berkurang. Sampai akhirnya aku dapet kabar kalau anak kucingnya tinggal 1. Nah pas itu aku uda di Surabaya lagi, dan sempat lihat sendiri si survivor itu. Setelah diceritain sama bapak, ternyata dua anak kucing yang sebelumnya ada, ngga kuat, dan dibiarkan mati sama induknya. Tinggal satu ini yang tersisa, dan aku ikutan jadi pengamat anak kucing.

Suatu hari, aku sama bapak nemuin si anak kucing ini sekarat. Bapak uda hopeless aja, katanya nasib si kecil ini bakal sama kaya sodara-sodaranya. Geretan karena ngga bisa berbuat apa-apa. Bingung sih, kudu digimanain ya....... dan entah dapet ilham darimana, aku sama bapak iseng ngasih dia makan ayam goreng. Kita taruh disebelah dia, yang buat gerak aja kayanya uda ngga sanggup, terus kita tinggal, pindah ngeliatin dari jendela. Dan ternyata dia masih kuat merangkak, terpacu bau ayam goreng yang enak banget itu kali ya 😂😂 akhirnya dimakan! Ayamnya dimakan dengan lahap! Ternyata dia kelaperaaaan wkwkwkwk yang biasanya dia takut sama kita-kita, setelah kejadian dikasih makan itu, dia jadi berani deket-deket, berharap dikasih makan lagi dan sampai dia uda agak gede pun, masih sering main sama ak (?) Dateng ke rumah, di elus-elus, minta makan. Awalnya aku seneng banget mainan sama dia, tapi makin gede kukunya makin tajem, dan jadi ngga lucu lagi pas ngga sengaja nyakar aku.

Setelah itu, keluargaku jadi sering ngasih makan kucing-kucing liar yang berani dateng ke rumah. Uda banyak banget kucing yang dateng-pergi minta makan. Ganti-ganti lagi. Dan yang paling terakhir ini adalah si kucing belang-belang. Yang entah dia dapet info dari kucing mana kalo di rumahku dia bisa dapet makan 😅😅

Dari awal dia dateng ke rumah, uda berani nempel-nempel ke kaki aku dan orang-orang rumah. Nempel-nempel dan "meong" nya itu bikin kami berempat luluh, bikin kami ngasih makan dia terus, terparahnya adalah: bikin kami beli whiskas, cuma buat dia!

Awalnya aku seneng banget beli whiskas kalo di supermarket. Soalnya si kucing ini suka banget makan whiskas (bukan promosi lho). Sampai akhirnya......


"Tolong sisihkan gajine mbak yo sedikit... buat beli wishcass.. tadi kucinge pesen gitu."

Okay. Ini mulai mempengaruhi kehidupanku. Si kucing mulai menguasai keluargaku.......




Ini dia pelakunya. Posenya uda kaya raja aja...... masuk-masuk dalem mobil pula. Sebenernya ngga seberapa lucu, nyeremin malah, tapi gara-gara dia suka nempel-nempel di kaki dan bahkan nginjek kakiku yang mana hal itu sangat sangat stupiditly cute, akhirnya aku selalu simpati sama dia. Ngga cuma aku, semua orang rumah...... tiap kali buka pintu rumah pagi-pagi, dia langsung muncul sambil lari-lari ke depan pintu rumah. Tiap kali sampe rumah malem-malem, dan denger bunyi pager, dia langsung muncul entah darimana, terus nempel-nempel. Siapa yang tahan digituin cobaaa? :")

Dan sekarang, kucing ini uda kaya hewan perliharaan. Ikutan nimbrung pas bapak lagi ngobrol sama tetangga di pager (bener-bener nimbrung, gelendotan di kaki bapak, terus duduk manis di samping bapak yang lagi berdiri), masuk-masuk ke rumah, dikasih makan. Dan tiap pagi, aku selalu nanya ke bapak "uda dikasi makan belom ya?" Kalo belom, uda jadi ritual aku sama bapak ngasih dia makan.

The best part dari itu semua adalah, secara ngga langsung aku punya hewan peliharaan, tanpa harus punya tanggung jawab melihara hewan. Berhubung dia ini kucing liar, hidup semaunya, aku ngga perlu kontrol dia mau ngapain aja, bebas bosque~

Semoga panjang umur ya..

Bumbu

I've been through a lot in winter..
Trapped and fell on the snow
Getting cold of the degrees
Hard to breath
Can't go out because of the storm
Torturing me, but I still like it.

Then comes summer,
Warmer than I though it will be
Brought me excitement
The amazing summer vacation
Shining my day.
But I can't stand the heat...

When in fall,
I enjoying my self stepping the leaves
Hearing the cracked sound
Feeling the wind around me
Covering the hill with red-yellow combinations
Sunset seems more beauty
But it's not last long
Till I realized, the fall just lead me to early winter
Gives me the snow trap, but in different shape.

And here comes the spring
Lighten up my morning
Flowers blooming
Wonderful rainbow appears
Ask me to dance in the light rain
Sunrise never been my favourite, but now it is
Gives me warm and cold at the same time
Playing around with my day, but I let it
Just because I love to stand in the middle
And closing my eyes
Letting spring take me anywhere

But it doesn't
It just passed,
And I have to deal with another season again

That's life.
When it comes to end, we have to moving on.
Cause the cycle is not stop just in one place.
And sometimes in the place you don't want to.

hemhemhem

Dalam fase bingung antara 'masuk' dan 'masup'

Mana yang bener,
"masuk angin" atau "masup angin"
"Dimasupin kulkas" atau "dimasukin kulkas"
"Bikin masup ke lambung" atau "bikin masuk ke lambung.."

Ada yang tahu bedanya? ._.
*kalo wassup, aku tau....*

Day 29 - Confessions

1. I'm carnivore and non-vegan. I left vegetables on the plate.
2. Do not talk to me when I talk little.
3. I'm imaginating a lot.. Pretty sure its lot.
4. I enjoy my time alone and not talking at all. It doesn't bother me when in a room with anybody in silence.
5. I'm not perfect, it's because I'm not showing you my dark side. I'm not as high-can't-reach as you think I am, but I'm good as I think I am, and I'm better than everyone talk behind me.
6. I'm writing because sometimes I just want 'one person' to read it and knows everything about me. A few posts referring to someone.
7. Sometimes I'm not showing how I feel in person, but I write instead. I'm not sugarcoat-ing my words for one person, but I show the world that I really mean it instead.
8. I care for strayed cats or dogs, or animals. I do.
9. For me, Addison Montgomerry and Teddy Altman are the super-ultra-great-charming Grey's Anatomy's stars
10. I see directly in people's eyes when I'm in an interesting conversation with them. Just see me rolling my eyes when I found it boring.
11. But I can't see directly in 'one person' s eyes when that one person look in to my eyes.
12. I'm socially awkward. I'm a type of dentist that possibly getting mad at my own patients.
13. I can't stand seeing my nails grow longer.
14. I'm in an early stage of being OCD. Can't control my self when seeing like-a-mess room.
15. I always give my best shot. I'm impulsive when it comes to what I want.

Rabu, 06 September 2017

Day 28 - Most Embarrassing Moment (s)

Judulnya aku revisi, ditambahin (s) belakanganya, saking aku orangnya malu-maluin banget. Daripada cerita-cerita soal yang lain, aku lebih suka ceritain kejadian absurd dan super random nan super malu-maluin kalo pas lagi kumpul sama temen-temen, hahaha!

Salah satunya ini terjadi waktu aku KoAs dan lagi stase PKL, dimana aku sama temen-temen ditugaskan untuk bikin program kerja kemudian menerapkan di Masyarakat sasaran. Nah, untuk proposal PKL, aku dan 4 orang teman lainnya kebagian ngerjain bagian pembahasan dan kesimpulan kalo ngga salah. Singkat cerita, deadline buat ngumpulin tugas kayanya mepet, dan aku beserta 3 orang teman lagi nungguin bahan yang sedang dikerjakan oleh satu teman kami. Ditungguin sampe malem, dia ngga segera kirim bahan buat kami lanjutkan. Bener-bener sampe malem. Akhirnya, kami mulai men-teror dia di multichat Line.

*kurang lebih percakapannya kaya begini*
Aku: Bang belom di email ya?
Teman 1: Ayo di email bang
Teman 2 : Ditunggu lho bang
Aku: Baaaang buruaan

Dan seingetku, yang paling membombardir teroran adalah aku. Sampai beberapa waktu kemudian, si tersangka ini ngebales. Sebut saja tersangka ini si Ari.

Aku: Baaang ayo kirim
Tersangka: Maaf, Ari nya udah tidur. Ini mamanya.

Sontak aku cegek banget dong. Apaan sih ini orang? Sempet-sempetnya bercanda disaat kami uda stres nungguin tugas yang ngga dikirim-kirim sama dia. DAN ENTAH KENAPA AKU SAMA SEKALI GA KEPIKIRAN KALO ITU MAMANYA BENERAN YANG NGETIK. Karena temenku si Ari ini orangnya super kocak, aku pikir dia ini bercanda. Dengan santai dan jari tanpa dosa, aku ngebalesin chatnya dia dengan.

Aku: Boleh minta tolong siram pake air ngga biar bangun, tante?
Teman 1 : *kirim stiker ngupil*

Dan chat itu lama banget ngga dibales sama si ari. Aku mulai badfeeling......... Nggak lama, ada balesan lagi.

Ari: Rek maaf aku ketiduran.. Ini aku kirim ya

Aku langsung shock. Dia... beneran baru bangun dari tidurnya....? Terus tadi siapa yang balesin? Mamanya beneran? Terus kenapa dia bisa bangun? Dibangunin mamanya? Apa disiram air beneran.....? Apa mamanya baca chat aku tadi? Gimana tanggepan mamanya? Apa aku uda di cap sebagai teman Ari yang ngga sopan sama orang tua? Gimana???? Gimana???

Saking shocknya, aku langsung personal chat ke si Ari. Minta penjelasan dan klarifikasi masalah chat barusan.

Aku: Bang.... tadi itu beneran mamamu?
Ari: Hahaha iyo Ra beneran
Aku: Ya Allah... kupikir itu kamuuu guyonin kita-kita. Terus mamamu bilang apaa???
Ari: Wkwkw yo engga Ra. Mamaku ngebangunin aku terus bilang 'mas itu kamu dicariin temen-temenmu' gitu ajasih.

Boleh.... mengundurkan diri jadi temanmu ga, bang?


Nb: tadinya aku emang berencana mau menceritakan lebih dari satu embarrassing moment of my life, tapi berhubung ngetiknya dari hp dan pagi-pagi banget sebelum mulai nyangkul, jadi ngga sempet dah 😂😂 Maaf ya... bukan click bait kok ini. Biar yakin aja kalo emang aku punya lebih dari 1 embarrassing moment itu 😂

Selasa, 05 September 2017

Day 27 - Whats in My Closet

Sebenernya mau ngefotoin sekalian ceritain satu-satu tentang isi lemari. Berhubung lagi superberantakan dan ga jelas isinya apa karena diuwel-uwel kemaren habis nyari baju, jadi cukup kuceritain aja ya.

Lemariku isinya: baju, celana, tas, jaket, topi, jilbab

Senin, 04 September 2017

Day 26 - My Hidden Talent

Kalo aku kasih tau jadi ga hidden lagi dong? Wkwk

Aku punya bakat tersembunyi..... bisa ngetik di hp dengan kecepatan 5 kata per detik tanpa lihat ke screen hp 😎😎😎 *Puenting!*

Europe Trip: Last Part!


Sedih banget pas ngedit video ini, karena uda detik-detik balik ke Indonesia :") Kata ica, nonton video-video ini berasa throwback, sambil mengenang pas kita disana, dan bisa bikin baper bangeet :") baper pengen balik kesana. Dan cukup jadi salah satu motivasiku buat nabung.

Beberapa orang menganggap kalau jalan-jalan kaya gini cukup buang-buang uang. Walaupun ngga sepenuhnya salah, tapi pengalaman dan perasaan yang didapat dari jalan-jalan ke negara orang ini pun bisa membayar uang yang aku keluarkan. Yang penting tetap tau prioritas, dan bisa ngerencanain perjalan yang super hemat! Wkwkwk

Akhirnya Europe Trip 2017 ku berakhirrrr di Belanda. See you on the Europe Trip Part 2: Madrid, Barcelona, Italy, Germany,yaaak! 😂😂😂 Aamiin ya rabbal alamin

Minggu, 03 September 2017

Stupidity level = max

Karena uda ngga kuliah atau harus kejar setoran di RSGM lagi, kegiatanku setelah praktek pagi adalah jadi supir pribadi andalan keluarga -ready 24/7. Pulang praktek langsung jemput ibu dan bapak. The best part nya adalah, kalau lagi beruntung, bisa dapet traktiran makan siang. Ngga ding, selalu diajak makan siang bareng.

Hal yang bikin kamu nyaman berada di sekitar keluargamu adalah karena kamu mengenal mereka, mengenal secara jiwa dan batin, kamu terikat dengan secara darah dan hati. Bahkan, keadaan sunyi di mobil kadang-kadang menenangkan. Ngga bosan, kalau sama mereka. Aku sama Raka juga bukan tipe yang ngobrol seru sepanjang perjalanan. Hanya ngobrol seadanya, sisanya dihabiskan dalam diam. Tapi kamu selalu tahu kamu aman didekat mereka. Pergi ke tempat yang ngga kamu kenal sama sekalipun ngga masalah, asal ada mereka.

Satu lagi, keluargamu seperti cerminanmu. Walaupun ngga selalu sama sifatnya, tapi sepemikiran lah, dan always have your back. Selera humor yang sama, sifat yang diwariskan.

Sore itu, aku sama ibu bapak habis makan siang di salah satu tempat makan di Surabaya. Dan bapak berniat mentraktir Egg Waffle buat aku yang hari itu udah nganter-nganterin ibu keliling berbagai tempat. Rejeki anak sholeh! Kami bertiga langsung cus menuju counter yang jualan egg waffle. Sesampainya disana, aku shock banget ternyata harganya udah naik jauh. Dari yang awalnya Rp 15.000, sekarang naik jadi Rp 20.000. Untuk egg waffle yang biasa itu, menurutku agak ngga worth it.

"Pak ngga jadi deh.."
"Kenapa mba?"
"Mahal harganya.. ga worth it aja."
"Gapapa lah.."
"Jangaaan. Yang lain ajaa. Coba ke Poc*yo yuuk"

Akhirnya kami beranjak ke toko waffle di lantai yang berbeda. Nah bedanya, kami belom pernah nyoba waffle yang bakal kami kunjungi ini. Kalau egg waffle udah sering beli, sampe ngga rela kalo harganya naik. Akupun mulai lihat2 menu nya, ada apa aja di waffle baru ini. Dan akhirnya aku memutuskan buat beli ini.

"Udah pesen mba?"
"Udah pak. Ini tinggal bayar.."
"Oh.. berapa?" Bapak uda ngeluarin dompet.
"26.000 pak.."

Bapak terdiam sejenak. Setelah sadar, kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya. Ibu yang merasa ada sesuatu yang salah dalam percakapan ini akhirnya angkat bicara.

"Berapa? Berapa harganya?"
"26.000 bu.." aku menjawab dengan polos
Ibu masih terbelalak.
"Tadi waffle harganya 20rb kamu nggak mau karena kemahalan, sekarang malah belinyang 26rb..... wes wss"

Setelah sadar apa yang salah saat itu, aku ibu sama bapak langsung ketawa ngakak.

"Waffle 20rb nggak mau.. maunya yang 26rb bu," kata bapak sambil ketawa, "Aneh......."

Kami bertiga ngakak ngga berhenti. Sebenernya ini ngga cukup lucu buat diketawain sampai segitunya sih, tapi beneran, kami ngakak ga berhenti. Buat kami, yang lucu bukan harga waffle nya, tapi keluarga kami...

"Kamu lho mba sering bilang ga paham sama orang lain, tapi ibu lebih ngga paham sama kamu..."
Aku cuma bisa nyengir sambil lanjut ketawa.

Iya juga ya? Kenapa aku beli yang 26rb ya?

Day 25 - My Biggest Regret

Terlalu terburu-buru dan tidak berpikir pakai otak dalam membuat keputusan, karena terlanjur ada di titik 'nyaman'.

Temanku pernah bilang, kalau semakin 'nyaman' kamu berada di satu titik, semakin bahaya, karena kamu semakin tidak akan berpikir dua kali untuk memutuskan sesuatu.

Sabtu, 02 September 2017

Ada waktunya dimana kamu benar-benar sudah lelah mencoba, atau sudah lama sejak terakhir kali kau berjuang untuk hal itu, dan sekarang kamu tidak punya keberanian untuk memulai kembali.

Ada waktunya ketika kamu sudah akan mencoba lagi, tiba-tiba dihantui rasa bersalah. Rasa takut, keraguan. Maka saat itu kamu akan mundur.

Ada waktunya saat kamu menyesali keputusanmu untuk mundur. Berusaha menghilangkan semua kemungkinan terburuk, mencoba untuk tidak memikirkan apa-apa.

Ada waktunya setelah kamu mencoba, dan ternyata tidak sesulit yang kau kira. Kau akan bersyukur karena tidak berhenti mencoba. Kau akan memiliki awal yang baru, kau tidak akan takut dengan apa yang akan menghalangi di depan.

Ada waktunya, kau akan berdiri di depan. Berkacak pinggang, dengan pose kemenangan. Kau telah berhasil bertarung melawan musuh terbesarmu: dirimu sendiri.

Jangan ragu untuk mencoba memulai kembali hal yang pernah membuatmu jatuh. Karena, siapa yang tahu bahwa akhirnya akan berbeda?

Coba katakan

Ketika kau sedang berada di dekatku, dan merasa sedih, berulang kali kukatakan, bahwa aku siap mendengarkan ceritamu seharian. Aku punya banyak waktu untuk menanggapi hal yang membuatmu bersedih. Aku bersedia menerima teriakanmu jika kamu memerlukannya untuk merasa lebih baik. Berulang kali kukatakan, bahwa aku ada untukmu. Namun yang kau lakukan hanya diam, menangis, dan terus berkata bahwa kau baik-baik saja.

Aku mulai menepuk pelan pundakmu, berusaha menemani sampai tangismu berhenti. Tidak lama, kamu menunjukkan seolah tidak perlu dihibur, mengatakan bahwa sebaiknya aku segera berangkat kuliah. Baiklah. Mungkin kau butuh waktu dan ruang untuk sendiri. Aku berjalan keluar ruangan, dan tidak lupa untuk memintamu menghubungiku jika butuh sesuatu. Secepat kilat aku akan datang.

Kau tidak berhenti menangis juga sore itu, ketika aku pulang dan membawa sekotak terang bulan keju favoritmu. Berbaring memeluk guling, aku bisa mendengar isak tangismu, yang air matamu entah sejak kapan mengalir deras disana. Tidak kah kau lelah? Sekali lagi kutanya, dan kau bersikeras bahwa kau baik-baik saja. Aku mengambil laptopku, mulai mengatur meja lipat, dan berpindah mengerjakan tugas disampingmu. Karena aku tidak tahu yang kau perlukan, mungkin cukup dengan aku menemanimu melewati sesuatu yang berat ini. Tidak lama, kau bangkit dari posisi berbaringmu, keluar dari ruangan, dan ternyata berpindah tempat ke ruang tv. Mulai menangis hingga suaranya terdengar sampai ke kamar. Oke, kau tak ingin aku menemani.

Aku mencoba tidak peduli dengan semua ini, dan berusaha bersikap biasa saja ketika makan malam di ruang yang sama denganmu. Berusaha tidak menghiraukan suara tangismu yang entah mengapa kedengarannya semakin kencang. Oke, aku sudah tidak tahan.

"Oke, ayo kita bicara. Ada apa denganmu? Menangis seharian seperti orang gila? Ada masalah apa? Kalau aku bisa bantu, tentu aku akan bantu kan seperti biasanya?"

"Aku baik-baik saja."

"Bagian mananya yang baik-baik saja kalau daritadi kau menangis tanpa sebab??"

"Tidak apa-apa. Aku baik-ba..."

"Kalau begitu jangan menangis di depanku! Jangan menunjukkan padaku kalau kau sedang bersedih! Untuk apa kau menangis di depanku, bahkan kau tidak membiarkanku membantumu! Untuk apaa???"

Teriakanku memecah suara tangis yang sedaritadi terdengar. Mungkin seharusnya ini yang daritadi kulakukan untuk membuatnya berhenti menangis.

"Inilah aku. Aku bukan orang yang akan menanyakan terus bagaimana keadaanmu, memaksamu untuk menceritakan apa masalahmu ketika kamu tidak mau membicarakannya. Aku bukan orang yang akan menempel padamu, menghiburmu dengan kata-kata manis disaat kau bahkan sedang tidak ingin ada aku didekatmu. Aku bukan orang yang seperti itu." Berusaha menekan intonasi dan volume suara, aku menarik napas panjang. "Aku bukan orang yang akan memelukmu kalau kau tidak ingin ditenangkan. Aku hanya akan ada disini, kapan pun kau butuh. Jadi tolong, kalau kau tidak perlu bantuanku, berhenti menangis di depanku, berhenti menunjukkan kesengsaraanmu di depanku. Karena kau tahu, itu sangat mengganggu."

Kau harus tau pandanganmu padaku saat itu, seakan aku adalah orang yang paling tidak ingin kau temui. Kau bergegas masuk ke kamarmu, membanting pintu hingga penghuni kos lainnya melongo dan menoleh, melemparkan pandangan penuh tanya ke arahku.

Aku tau aku keterlaluan, menambah beban pikiran masalahmu disaat seharusnya aku mendukungmu. Tapi, kau tahu ini aku, aku perlu kau bicara, aku perlu kau menceritakan padaku sehingga aku tahu bagaimana aku bisa membantu. Dengan berkata bahwa kau baik-baik saja disaat kau sebenarnya tidak baik-baik saja, itu malah mempersulit semuanya. Masalahmu tidak akan terselesaikan, dan aku akan membunuhmu dengan tatapan tajam seperti tadi, tatapan enyahlah dari pandanganku. Aku berjalan menuju kamarmu, mengetuk pelan, dan membisikkan, "Ceritakan padaku ketika kau sudah siap. Kau tahu kan, aku selalu disini."

***

Ini hari ke 4, setelah 3 hari sebelumnya kau bahkan tidak mau bertatapan mata denganku. Kau lebih memilih mengurung diri di kamar, tidak keluar untuk makan, tidak berangkat kuliah, dan kita hanya berpapasan ketika kau pergi ke kamar mandi tengah malam. Aku tidak masalah dan tidak peduli. Karena mungkin kali ini, kau tidak butuh aku untuk menyelesaikan masalahmu. Sungguh, aku tidak mempermasalahkannya. Tapi, hei, aku peduli..

"Tok..tok.." pintu kamarku diketuk pelan. Tidak butuh jawabanku, pintu tersebut membuka perlahan, dan bisa kulihat ujung rambutmu menjuntai disana. Kau mengintip dari balik pintu itu, dengan wajah sembab, tidak karuan.

"Aku sudah siap. Maukah kau mendengar?"

Tidak butuh jawaban bukan?
Aku tersenyum dan segera mempersilahkannya masuk. Kau duduk tepat disampingku, dengan tangan terlipat yang masih gemetar. Air mata mulai menetes lagi dari matamu, aku segera meraih tanganmu, menggenggamnya.

"Aku selalu siap mendengarkan ceritamu, ketika kamu siap bercerita." Kataku sembari memberinya waktu untuk mempersiapkan. Dia tersenyum. Menghela nafas panjang, dan mulai bercerita.

***

Ketika kau memiliki masalah, sebesar apapun itu, tentu kau akan membutuhkan seseorang untuk membantumu, menemanimu. Kau menangis didepan seseorang, karena berharap orang itu akan membantu, bukan? Cukup ceritakan saja bagian yang ingin kau ceritakan, lepaskan semua perasaan sedihmu. Baik teman, orangtua, dan Allah tentu saja, akan siap mendengar dan membantu. Kau hanya perlu meminta bantuan. Karena bagaimanapun, beban akan lebih ringan jika dipikul bersama, dan bagaimana orang lain tahu kau butuh bantuan jika tidak mengatakannya?

Day 24 - What Attracts Me (in love)

1. Stupid and ultra receh jokes
2. FOOOOOOOOOOOOD~~
3. Never ending "dreams" talking
4. Going someplace outside the city centre
5. Share the same Funworld & Timezone thing!
6. Same movie taste
7. Mountain-ing! Instead of beach-ing
8. "Not-so-into-social-media"-type
9. Getting along with kids easily
10. Animal lovers!

Jumat, 01 September 2017

Sebagai seorang yang hampir tiap hari (bahkan hari Sabtu juga) berangkat praktek jam 7 pagi dari rumah, aku termasuk yang engga sempat nonton berita di TV pagi hari. Sampai rumah udah malem, kalo engga pasti kuhabiskan dengan nonton Grey's Anatomy. Kalo udah ngantuk, tidur, engga sempat nyentuh koran. Jadi, ngebacain Line Today merupakan salah satu caraku supaya engga kudet soal berita-berita kekinian yang lagi happening sekarang.

Berita-berita di Line Today super beragam. Mulai dari yang judulnya ringan, judul mencekam, berita kekinian, berita rada ga penting, berita penting banget, satu isi berita tapi beda-beda judulnya, click bait, sampai berita yang bikin pegel, kesel, capek. Salah satunya adalah: Jalur Busway Macet Akibat Motor Pindah Jalur, Supir Busway Diprotes Pengendara Motor.

See? Ini salah satu berita yang bikin pegel, kesel, capek. Siapa yang salah, siapa yang marah-marah coba?

Setelah baca isi beritanya, aku langsung cerita-cerita sama ibu bapak tentang berita tersebut. Sambil kesal dan pegel sendiri. "Heran aku sama orang-orang," yang berujung ditanggapi pasrah sama mereka, "Yaudah kamu capek sendiri nanti kalo terlalu dipikirin. Orangnya aja ngga mikirin kamu. Gitu itu kenapa negara ini ngga bisa maju.."

Di jalan pun ketika lagi nyetir misalnya, aku suka sambat sendiri kalo ngerasain gimana pengemudi dan pengguna jalan lainnya seenak udelnya sendiri. Misalnya ada kendaraan yang awalnya ada di jalur buat belok kiri, dan aku di jalur tengah. Tiba-tiba dia motong di depanku buat belok ke kanan. Atau ada bemo yang tiba-tiba suka ngiri mendadak begitu liat penumpang. Atau kendaraan yang puter balik di tempat yang seharusnya ga boleh puter balik. Atau parkir di tempat yang ada larangan parkirnya. Ngga disiplin banget. Kudu mengumpat ngga sih rasanya? :)

Aku pun pernah dibonceng sama temanku naik motor, dan temanku ini adalah salah satu pengemudi yang agak ngga taat peraturan lalu lintas. Puter balik di tempat yang ngga seharusnya, motong jalan kendaraan, tiba-tiba belok kiri setelah dia lama di jalur kanan, yang berakibat dia sering banget di klaksonin sama kendaraan lain. Dan aku selalu jujur sama dia, "Kamu adalah salah satu yang bakal aku klaksonin terus-terusan kalo di jalan." atau, "Kalo aku jadi mobil tadi, aku juga bakal klaksonin kamu. Malah lebih dari mobil tadi." Dia cuma meringis dan tetap menjalani kebiasaanya..... aku juga cuma bisa ketawa dan berdoa dalam hati biar ga ketilang aja. yha. Ati-ati aja di jalan ya sob, dengan style nyetirmu aku cuma bisa doain hati-hati di jalan :"))) Tapi sekarang kayanya kebiasaan dia udah membaik deh. Wkwkw

Belakangan lagi marak satu berita menyangkut almamaterku. Kaget banget aku rasanya baca salah satu headline berita: Mahasiswa Tertangkap Memalsukan Sertifikat, Demo Menolak Membayar SPP. Paham kan kemana arah topik bahasannya ini? Engga kok, aku ngga berniat buat ngebahas dari sudut pandang siapa-siapa disini. Cukuplah aku eneg bacain postingan di timeline Line yang isinya cerita dari dua sudut pandang: mahasiswa yang tercyduk malsu sertifikat dan mahasiswa jujur yang kena imbasnya gara-gara ada yang malsu. Both of them adalah teman dekatku.

Seriously? Sekarang kualitas orang-orang kita kaya gitu?

Anak yang waktu UNAS SD ngga mau contekin temannya, dibully habis-habisan, dicela sama orang tua murid lainnya.

Anggota DPR yang terlambat datang ke Rapat karena alasan terlambat, minta dibangunkan Apartemen yang dekat kantor supaya ngga telat lagi.

Artis-artis yang ngga bayar pajak kendaraan mewah mereka, alasannya ngga sempat dan lupa, pulang syuting selalu pagi.

Orang yang dengan bangganya mengumbar perilaku, attitude, kebiasaan buruk di socmed, merasa di judge orang banyak padahal itu hidupnya. Menolak menayangkan konten yang lebih mendidik, merasa bahwa itu tanggung jawab orangtuanya.

Orang-orang yang bikin jalur antrian sendiri di jalan. Ngga mau sabar.

Buang sampah sembarangan di jalan. Padahal katanya Surabaya udah kaya rumah sendiri, tapi ngga mau ikut menjaga kebersihan rumahnya.

Orang-orang yang pekerjaan utamanya mengadu domba banyak orang. Membuat hate speech buat menyudutkan satu golongan.

Boncengan bertiga bapak-ibu-anak, tapi anaknya ga pake helm. Pak, bu, kalo misal terjadi hal yang ngga diinginkan, terus kepala anaknya siapa yang ngelindungin? Situ berdua enak pake helm :")

Seriously? Seperti itu? Seperti itu lho kita... :")

Disini aku ngga ngejudge ya. Aku bukan merasa paling benar, paling punya pikiran hebat. Engga kaya gitu. Akupun juga masih ugal-ugalan kalo nyetir, masih suka denial, tapi aku selalu berusaha buat menaati peraturan. Berusaha dan belajar supaya jadi orang yang lebih baik lagi. Berusaha memikirkan orang lain juga.

Intinya adalah, ayo kita biasakan diri supaya disiplin dan mematuhi peraturan. Menjalankan dan menaati peraturan dengan baik. Berpikir lebih terbuka, lebih santai. Banyak-banyak membaca berita, diskusi dengan orang banyak. Sumpah deh, selain kesel, pegel, capek, disisi lain aku sedih karena orang-orang kita seperti itu.. Andai aja kita bisa ngga memikirkan kepentingan sendiri, andai kita juga memikirkan orang lain. Mungkin karena bidangku adalah medis dan kesehatan, jadi kami di mind-set untuk mementingkan urusan pasien, urusan orang lain, yang Alhamdulillah memberikan dampak positif.

Kebaikan selalu dimulai dari hal yang kecil kok, misalnya berhenti di lampu merah waktu ada orang yang nyebrang, dan tetap berhenti sampai lampu hijau walaupun uda ngga ada yang nyebrang.

Yuk mari sama-sama belajar dan berubah ke arah yang lebih baik :")