another blogger

Sabtu, 14 Oktober 2017

You are done with something that you used to cry about,
when you just laugh at it now, even make some bad jokes on it.

And the best part of it, you'll never feel guilty, but relieved instead.
Or better you don't feel anything, just happiness inside.

Selasa, 10 Oktober 2017

Dear My Present Self

Beberapa hari yang lalu, aku sempat ngobrol di multichat dengan teman-teman semasa sekolah yang sekarang udah pada kerja. Walaupun hitungannya duluan aku masuk kuliahnya, ternyata mereka lulus lebih cepat daripada aku 😂😂 ikut senang ngeliat teman-teman yang pada udah jauh di depan. Walaupun agak kecil hati, lihat diri sendiri yang gini-gini aja.

Dari beberapa teman, ada yang cerita, sebenarnya pekerjaan yang dia tekuni sekarang adalah bukan passion nya. Kalo bisa, dia pengen banget ngejar hal-hal yang dia suka. Ada juga yang wirausaha, atau istilah keren nya sekarang memulai 'start-up', punya bisnis sendiri yang bener-bener dari 0 banget dia mulai. Jatuh bangun karena sempat ngga ada pemasukan sama sekali, dan dia ngga berminat jadi pekerja kantoran.

Teman-teman pada iri katanya, sama aku, yang begitu lulus kuliah otomatis akan ngejalanin profesi yang sesuai dengan apa yang ditekuni. Sekolah kedokteran gigi, ya kerjanya jadi dokter gigi. Dari awal memang sudah ditetapkan begitu. Sementara teman-teman banyak yang bekerja ngga sesuai dengan jurusan yang dia ambil semasa kuliah. Padahal mereka ngga tau aja gimana beratnya perjuangan sampai di 'profesi yang sesuai dengan apa yang ditekuni' tadi. Sampai rasanya pengen berhenti aja.

Yang tadinya aku berkecil hati karena teman-teman yang udah begitu jauh ninggalin aku, jadi ngerasa apa yang mereka punya sedangkan aku engga? Apa yang mereka dapatkan sementara aku engga?

Kami sama-sama sedang berusaha di jalan masing-masing. Soal siapa yang sudah settle duluan itu ngga penting. Banyak juga yang setelah lulus, sempat jadi pengangguran, mencari-cari apa yang bisa atau akan mereka kerjakan nantinya. Sedangkan aku, dari awal aku sudah dikasih jalan untuk menekuni apa yang jadi pilihanku sejak awal. Seusai lulus jadi dokter gigi pun, aku ngga sepenuhnya menganggur (dimana teman-teman masih eksplorasi akan kemana selanjutnya), ada banyak jalan terbuka, aku hanya baru di titik 'start' nya, sedangkan teman-teman yang lain suah setengah perjalanan. Mereka pun telah melewati titik 'start' itu, dengan awal yang ngga jauh berbeda. Aku punya support lebih, dengan keadaan keluarga yang mendukung. Tempat praktek udah ada, dan kalo aku masih disini-sini aja, itu salahku sendiri, karena memilih ngga bergerak.

Salah seorang kenalan pernah nanya, "Apa pencapaian terbesarku?" Dan dengan bangga nya aku bilang, "Masuk FKG. Itu effort ku yang paling besar.." dan komentarnya agak menyakitkan hati banget.

"Kamu ngerasa pantas kan dapat FKG, karena sebanding dengan apa yang kamu perjuangkan. Kamu berusaha, kamu dapet yang kamu mau. Rumusnya sih usaha berbanding lurus dengan hasil. Tapi cuma sekedar itu kan? Usaha. Padahal kamu ada di keluarga yang terbilang 'mampu', belajar buat ujian juga di ruangan kamar yang nyaman, makan tersedia, ikut les-lesan yang mahal demi tembus PTN favorit. Seharusnya kan rumus hidupnya jadi usaha ++++ = hasil ++++. Tapi sepertinya, hasilnya hanya hasil ya. Bukan hasil +++? Gimana kalau kamu dibebani belajar untuk ujian, sambil bekerja mencari uang untuk biaya daftar ujian? Atau bahkan untuk biaya makan nanti sore. Ngga ikut bimbel karena penghematan. Dengan faktor tambahan mu yang begitu banyak, aku rasa masuk FKG bukan pencapaian terbesarmu."

Ini terpelatuque banget sih. Beberapa harian gitu aku agak gondok sama temanku ini. Dan aku jadi kesal, karena apa yang dia bilang benar. Aku ngerasa kesal karena omongannya tepat sasaran. Walaupun ngga suka karena dia judging, tapi kalimat dia berhasil jadi salah satu pedoman hidup, bahwa giving our effort itu ngga cukup. Kita harus giving our best. The best of us. Makanya aku bilang, kalau kita punya faktor +++ tadi dan masih disini-sini aja, itu adalah salah kita sendiri....

"Rara kan dari dulu emang pengen jadi dokter kan? Alhamdulillah sekarang bisa jadi dokter.." kata temanku yang sebelumnya kuceritakan, tentang pekerjaan yang ngga sesuai passion nya. Dia bukannya ngga bersyukur, tapi tenryata dia hanya memanfaatkan kesempatan dan peluang yang ada, untuk nantinya bisa bekerja sesuai dengan yang dia inginkan. Pekerjaan yang sekarang hanya batu loncatan, salah satu misi dalam mencapai visi nya. Dia masih berada di titik yang sama denganku katanya.

Begitupula temanku, si pionir start-up. Berbulan-bulan dengan ketidakpastian kelanjutan bisnis nya, tapi dia ngga pernah menyerah karena bersikeras ngga minat jadi bawahan orang. "Bukan masalah gengsi sih kerja kantoran tuh. Kalo mereka awalnya juga bisa memulai, kenapa aku engga." Ceritaku hari ini kesannya kaya dibuat-buat ya, banyak kalimat-kalimat motivasi dangdut, tapi itu sungguhan. Benar-benar sore berfaedah. Tukar cerita sama orang-orang kaya gini ini yang bikin semangat.

Intinya, semua punya jam yang terus berputar sendiri-sendiri. Kita kaya bergerak di zona waktu yang berbeda. Semua punya waktunya sendiri-sendiri. Bedanya adalah, siapa yang memanfaatkan dan memahami waktunya lebih baik dari yang lain. Apa artinya kita percaya kalo sekarang "bukan waktu kita", terus hanya berdiam diri di sudut ruangan, menatap iri pada teman-teman yang sudah di puncak, dengan penyangkalan,"Memang ini 'waktu' mereka.". Kalau kamu hanya berdiri saja di sudut sana, kapan kamu akan sampai pada 'waktu' mu? Karena kaya cewe yang kamu taksir, gimana bisa dekat, kalau ngga mengejar? Kalau ngga mendekatkan diri? Padahal dia juga bergerak.

Ngga usah minder kalau teman-temanmu banyak yang udah jadi 'orang' sekarang. Cukup fokus pada diri sendiri, tau apa yang mau dan akan kamu lakukan, be the best at it, or giving it your very best. Belum maksimal usahamu, kalau belum mencoba semua kemungkinan yang ada. Ngga perlu iri juga dengan mereka yang sudah jauh. Ingat saja mereka ngga akan berhenti dan menunggu, tapi mereka akan selalu siap menarikmu untuk maju bersama. Karena, yang bisa membawamu maju, terpenting adalah dirimu sendiri. Disertai doa orang tua dan kehendak Allah. Dan lagi, rumput tetangga emang selalu keliatan lebih hijau kan? 😂😂

"Padahal dia belum pernah mencoba, tapi dia ngga ragu-ragu buat memulai. Menurutmu apa yang bikin dia percaya diri bisa melakukan?"
"Karena dia udah belajar sebelumnya?"
"Yang paling sederhana..."
"Karena dia berdoa? Percaya diri?"
"Bukan. Yang paling sederhana adalah, karena orang lain (sebelumnya) bisa melakukannya, maka dia juga bisa."
- drg. Roberto

Sabtu, 07 Oktober 2017

When in White-Blue

Gara-gara kemarin ada kakak kelas jaman aku SMP di Sorowako ngefollow akun Instagram ku, aku jadi kepoin dia *eaea* dan berakhir ngelihat foto-foto dia dan teman-temannya. Yang beberapa sudah pasti aku kenal karena kakak kelasku juga jaman remaja dulu. Saking sibuk dengan diri sendiri, aku sampai lupa bahwa ngga cuma aku yang tumbuh dan berkembang, orang lain pun juga. Beberapa diantara kakak kelasku itu ada yang jadi dokter, ada yang kuliah di luar negeri, banyak juga yang udah kerja.

Begitupula teman-teman (seangkatan) ku di Sorowako. Sekarang udah punya jalannya masing-masing. Ada yang udah kerja, ada yang sekolah lagi, ada (banyak) yang udah menikah, punya anak. Kalo aku inget jaman sekolah dulu, aku dan teman-teman kaya belom punya pegangan apa-apa. Kerjaannya main mulu. Dan sekarang mereka udah jadi 'orang' yang sibuk. Yang punya tanggung jawab. Yang sedang memperjuangkan masa depan, mengadu kemampuan, berusaha mencapai pembuktian. Padahal aku cuma 2 tahun satu SMP sama mereka, tapi rasanya udah kaya teman dari baru lahir.

Buat yang belom tau, waktu kelas 5 SD aku pindah sekolah ke Sorowako, sebuah kota kecil di pucuk Provinsi Sulawesi Selatan, gegara ikut bapak yang kerja disana. Saking kecilnya, bahkan warganya saling kenal satu sama lain mungkin. Selama 4 tahun di Sorowako ini, banyak banget cerita-cerita ala remaja yang tinggal di pedalaman. Semacam Laskar Pelangi, tapi lebih modern. Pulang sekolah lewat lapangan golf, menyusuri sungai, ngelewatin pematang sawah, liburan ke Goa Kelelawar, petualangan di hutan bareng teman-teman, dan banyaaaak lagi cerita seru yang ngga bakal aku rasakan kalau tinggal di kota besar.

Setelah kebawa suasana nostalgia di instagram, aku jadi keinget cerita waktu MOS SMP. Karena Sorowako adalah kota kecil, jumlah sekolah disana bisa dihitung pakai jari. Dan karena aku adalah anak karyawan perusahaan tambang disana, otomatis aku sekolah di sekolah milik yayasan Perusahaan, salah satu yang terbaik di kota itu. Otomatisnya lagi nih, teman-temanku jaman SD juga lanjut ke sekolah yang sama. Jadi ya, berasa kaya cuma pindah kelas dan ketambahan beberapa teman baru dari SD lain.

Tebak aku yang mana! Hahaha
Begitu masuk SMP, teman-temanku yang tadinya sekelas cuma 20 orang di SD, bertambah banyaaak banget dari SD lain, baik di Sorowako maupun kota-kota lain luar Sorowako. Dan sialnya, waktu MOS, aku bener-bener kepisah sendiri dari teman-teman SDku. Aku masuk di kelompok yang teman-temannya sama sekali ngga aku kenal. Ngga ada yang aku kenal. Padahal di kelompok lain, senggaknya ada dua teman dari SD yang sama. Curang D: tapi aku harus bertahan............

Karena ngga punya teman di kelompok, awalnya aku diem banget di kelas. Berusaha jadi peserta MOS yang ngga bermasalah, yang selalu datang tepat waktu, yang rajin, yang pokoknya jauh dari incaran panitia MOS lah. Menghindari masalah, karena aku ngga punya teman di kelompok. Tapi untungnya, waktu duduk di kelas, teman-teman sebelah bangku ku adalah teman-teman yang asik. Jadi ngga butuh waktu lama buat berteman dekat sama mereka. Yang tadinya aku cuma diem aja di kelas, jadi lumayan banyak omong, tapi tetap berusaha kalem supaya ngga dilirik panitia :0

Entah kenapa di setiap Orientasi Sekolah, selalu dikasih tugas-tugas yang cenderung aneh... Dan mau ngga mau, sebagai peserta kita harus ikut aturan dengan mengerjakan tugas-tugas tersebut. Sebagai anak yang lurus-lurus aja, aku tentu mengerjakan tugas-tugas itu dengan sangat baik wkwkwk walaupun di kelas ngga punya teman yang deket dari SD yang sama, tapi untungnya aku bisa membaur dengan teman-teman baru.

Walaupun aku udah jadi se kalem apapun, entah kenapa aku selalu kena.....................................
Sumpah deh. Entah itu disuruh jadi siswa simbolis peresmian MOS lah, dipanggil maju buat jadi ketua kelompok lah, dipanggil ke atas panggung buat ngebacain surat cinta buat panitia lah. Parah sih ini. Padahal aku selalu diam dengan tangan terlipat di atas meja. Gimanapun aku diam mematung, tetap salah dimata panitia :"


Ini akuuuu waktu ditugaskan buat jadi siswa simbolis peresmian MOS. Dari banyaknya peserta MOS, ngga tau kenapa aku yang langsung ditunjuk ngga pake babibu. Dan sebagai peserta MOS yang ngga mau cari masalah, ngga mungkin kan aku menolak? :"

Yang paling parah adalah waktu ngebacain surat cinta. Kayanya ini selalu ada disetiap MOS ya. Peserta diwajibkan menuliskan satu surat cinta buat kakak panitia MOS. Sebelumnya, aku udah denger ada desas-desus kalo peserta MOS yang bermasalah atau caleda' (caleda' itu istilah di Sulawesi buat cewek yang apa ya kalo di Jawa sebutannya endel wkwkw) atau peserta MOS yang udah jadi target dan sasaran empuk kakak panitia, entah punya dendam kesumat pribadi atau apa. Dan akuuuu lagi-lagi dipanggil maju ke depan, padahal aku ngga merasa jadi peserta yang bermasalah, aku juga ngga caleda', dan aku bahkan ngga kenal sama kakak panitia yang super galak yang kabarnya udah punya incaran itu. Aku ngga masuk kualifikasi dong harusnya! ;---;

Surat cinta aku tulis buat Kak Reynaldi (yang sekarang udah jadi rekan sejawat Dokter juga. Halo kak!). Aku inget banget, disaat teman-teman yang lain pada bikin surat cinta buat kakak panitia yang menurut mereka paling ganteng, paling baik, paling yes lah pokoknya, aku nulis surat cinta buat kakak pembimbing kelompokku, yang mungkin aku satu-satunya peserta yang nulis buat dia wkwkw peace kak! Jadi waktu sebelum disuruh kumpul di depan panggung, kakak pembimbing kelompokku nanyain satu-satu ke peserta, pada ngirim surat buat siapa. 90% anak cewek di kelasku pada bikin surat buat kak Ibe, nama aslinya Ibr*him wkwk yang memang waktu itu adalah sosok kakak panitia kaya di FTV atau komik-komik. Yang good-looking, udah kelas 3 (kelas 3 SMP............ SMP lho...), tinggi, kurus, rambut jabrik, senyum mematikan, ya yang gitu-gitu lah. Entah kenapa ngga terbesit di benakku sama sekali buat kirim surat cinta ke dia. Justru aku nulis buat kak Reynaldi, yang aku kenal selama MOS ini adalah cowok yang baik. Dan untungnyaaaaaaaaaaa ngga seperti kebanyakan teman-teman yang isi suratnya adalah pernyataan cinta, atau memuja-muja kak Ibe (Contohnya seperti: Kak Ibe ganteng banget, badannya wangi, tinggi tegap macam Primus), aku justru nulis cerita tentang MOS yang aku jalanin ini dan pesan-pesan (lebih ke arah saran sih) buat kak Reynaldi. Cari aman takutnya aku yang disuruh ngebacain di depan satu sekolah.

Dan beneran, ketika waktunya pembacaan surat cinta, aku disuruh maju. Namaku bahkan disebutkan kedua setelah nama temanku yang aku dengar-dengar dia udah diincar sama panitia sejak hari pertama. Namaku disebut kedua! Padahal aku ngga pernah dateng telat, ngga pernah melawan kakak panitia, ngga pernah bikin masalah, ya Allah............. Begitu naik ke panggung, aku langsung dikasih toa (bener gak ya tulisannya gini?) buat ngebacain surat cinta. Kurang puas dengan aku ngebacain sendiri, butuh toa supaya satu sekolah bisa denger..... Terima kasih kak :) Untungnya, belum sempat aku ngebacain, acara lain udah mau dimulai dan akhirnya aku ngga jadi ngebacain ;")) Pas di panggung, aku sempet disamperin sama kak Reynaldi, dia tanya, "Kenapa isinya surat saran sih? Kok bukan surat cinta?" eaeaeaea dan karena orangnya seperti itu (ngga bisa dideskripsikan), aku malah becandaan sama kakaknya di panggung, sementara temanku yang namanya disebutkan tadi sedang ngebacain surat cinta dia buat kak Ibe, yang disambut "Ciyeee ciyeee" dari penjuru sekolah. Ngga peduli, yang penting aku lolos dari cekaman MOS ini.

Ngga mau tahu segimana kamu diem, berusaha mematuhi peraturan MOS, berusaha ngga terlihat, siapapun bisa jadi sasaran panitia MOS. Semua gerakan, bahkan mungkin bernafas pun, akan terlihat di mata senior, dan bisa jadi cara mu tarik-keluar kan nafas adalah salah menurutnya :") Atau helai rambutmu yang seharusnya dikepang dua, ada yang keluar dikit dari ikatan, dan jadi kesalahan juga yang menyebabkan namamu dipanggil untuk ngebacain surat cinta. Di hari ketiga MOS, aku seneng banget karena akhirnya bisa gabung lagi dengan teman-teman SD, karena waktu pembacaan pembagian kelas, aku bisa sekelas lagi dengan 80% dari mereka. Cuma beberapa yang terpisah kelas. Dan yang paling penting, aku terlepas dari semua acara 'ditunjuk' maju ke depan :"D

Tebak aku yang manaaa wkwk (2)

Di penutupan MOS, namaku dipanggil lagi maju ke depan. Kali ini bukan untuk dikerjain, tapi disebutkan sebagai Peserta MOS Ter-Rajin :"D Rasanya semua perjuanganku ngga dateng terlambat terbayarkan. Ini kali kesekian aku maju ke atas panggung....


Yeaaay! Selamat sudah menjadi siswi SMP, Ra! Dan setelah ini, kisahku sebagai 'Remaja Alay' dimulai :")))))

Hoi

Alohaaa~!
Aku muncul lagi setelah hiatus beberapa hari hahaha. Tadinya berencana hiatus sampai agak lama. Cuma, setelah dipikir-pikir, aku ngga nemu alasan yang tepat buat rehat menulis. Beberapa hari ngga buka notes di handphone rasanya gatel banget pengen nulis. Tapi lumayan lah, dengan aku sempet menghilang dari dunia per-blog-an ini, di kepalaku rasanya makin sibuk ngebuat tulisan-tulisan yang akhirnya aku catat tiap detailnya di buku catatan.

Kenapa sampai se-ribet itu sih, Ra? Kali ada yang nanya begitu. Jawabannya aku sendiri ngga tau apa maksud dan tujuannya. Mungkin sekedar 'pergi' dari rutinitas, butuh ruang, butuh privasi, dimana belakangan (daridulu sih) aku kebiasaan nulis-nulis curhat di blog, dan rasanya agak ngga pantes aja kalo suatu hari nanti tulisan galau itu dibaca oleh anak-anak atau suamiku kelak (Hahaha!). Sudah 23 tahun haru berpikir ke depan juga.. demi reputasi di keluargaku sendiri wkwkwk. Pengennya, anakku nanti (kalo-kalo dia sampai bisa nemu blog ini) yang baca ngga berpikiran bahwa emaknya jaman muda dulu adalah remaja galau yang super alay. Nooooooo ku tak mau D:

Karena itu, mungkin aku bakalan jarang update blog, dikarenakan proses seleksi dan memilah-milah yang sekarang semakin ketat dari draft blog yang semakin padat. Sebenernya aku belom mau muncul lagi nih di blog, cuma karena ada satu cerita yang aku pengen banget tulis, akhirnya terpoteque kan lah niat menghilang dari layar gadget ini. Demi. Demi menceritakan kisah-kisahku dulu kepada kalian D: Apalagi setelah mendapatkan pesan-pesan mengharukan dari teman-teman :"D

Happy to see you again :)