another blogger

Selasa, 12 Desember 2017

Mango Girl


Salah satu yang bikin betah banget berlama-lama di rumah eyangti adalah ini! Selalu ada mangga yang udah dikupas-tinggal makan tersedia di kulkas. Jadi begitu sampai di rumah yangti, aku langsung disuruh ngehabisin mangga nya. Ngga pake sungkan-sungkan, aku bawa nih sepiring mangga ke ruang tv dan bermalas-malasan sambil ngemilin mangga seharian. Bahkan kalau aku cuma mampir rumah eyang bentar buat cuci muka atau mandi dan habis itu mau pergi sama Hillary, dengan cerdasnya Hilly meluncurkan ide cemerlang: Ra, boleh ngga sepiring mangga nya dibawa? Wkwk. Akhirnya sepanjang jalan menuju tempat main, kami ngehabisin mangga.

Ngga cuma mangga, buah-buah an di rumah eyang selalu tersedia dalam bentuk sudah dikupas. Memudahkan orang-orang malas seperti saya (yang kadang-kadang menunda makan mangga karena males ngupas) untuk makan buah. Dulu malah pernah rambutan dikupasin juga dari kulitnya. Bener-bener tinggal makan deh pokoknya.

Pas lagi makan mangga, eyangti dengan bingung nanya ke aku, "Kok kamu malah makan yang mentah?"

Keliatan ngga di foto, kalau para mangga di sebelah kanan warnanya lebih pucat, keras, daripada yang sebelah kiri. Yap, yang sebelah kanan itulah yang dimaksud mangga mentah sama yangti. Teksturnya lebih keras, dan rasanya juga nggak manis. Tapi justru itu yang aku suka :"" Entahlah, daripada mangga yang terlalu matang, terlalu manis, dan agak lembek, aku prefer yang ada bunyinya pas digigit wkwk. Ada sensasi sendiri waktu makan mangga yang masih agak kecut, daripada yang terlalu manis. Kan aku sendiri udah manis HAHAHA

Akhirnya, aku menyisakan mangga yang mateng tadi dan menghabiskan yang katanya masih mentah. Padahal menurutku, rasa manisnya pas dan bodo amat mau itu mentah atau mateng. Pokoknya sesuai seleraku.

Jadi kalian team yang mana?
#teammanggamanis atau #teammanggakecut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar